Perjuangan Ibunda Husnul, Bocah Terinfeksi Rubella Sejak Lahir

September 11, 2018 - 21:23
Ilustrasi. Foto by Parenting
3 dari 3 halaman

Sekretaris Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aceh, Asrinar, Sp.A mengaku cukup khawatir atas apa yang disampaikan oleh Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah agar menghentikan sementara vaksinMR.

“Kita capaian baru 7 persen secara nasional, ini cukup mengkhawatirkan untuk generasi bangsa, khususnya Aceh,” ungkapnya.

Kekhawatiran Asrinar ini bukan tak memiliki alasan kuat. Berdasarkan data dari Unicef, dari 5000 pelajar di Banda Aceh, hanya 8 orang yang bersedia divaksin MR. Kondisi ini tentunya cukup memprihatinkan, karena dampak rubella di Aceh masih sangat tinggi.

Adapun kabupaten/kota yang capaian pemberian vaksin MR paling tinggi adalah Kabupaten Singkil sebanyak 22,39 persen, Gayo Lues 17,08 persen, Sabang 13,19 persen dan Subussalam 12,23 persen.

Justru Kota Banda Aceh yang berada di pusat ibu kota Provinsi, dengan tingkat pendidikannya tinggi capaian vaksin MR cukup rendah, hanya 3,07 persen. Jauh tertinggal dari Kabupaten Aceh Timur sudah mencapai 7,55 persen.

Padahal data dari Unicef, tingkat penderita campak dan rubella di Aceh tahun 2018 meningkat. Pada tahun 2017 penderita yang dilaporkan ada 3 orang menderita campak dan 4 orang rubella. Meningkat drastis pada tahun 2018 ini yaitu mencapai 16 orang yang sudah ditemukan.

Pelaksanaan vaksin MR di Aceh sempat terhenti setelah Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah meminta untuk dihentikan sementara. Karena Nova menilai vaksin MR masih belum mendapatkan sertifikat halal di Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Kemudian pada tanggal 20 Agustus 2018 lalu, MUI telah mengeluarkan fatwa Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR Produksi dari Serum Intitute of India untuk Imunisasi. MUI memutuskan bahwa vaksin MR itu mubah hukumnya, karena dibutuhkan untuk mencegah campak dan rubella.

Asrinar berharap seluruh rakyat Aceh mau memberikan vaksin MR kepada anak. Ini penting dilakukan untuk mencegah terjangkitnya virus rubella yang bisa menyebabkaan anak cacat setelah lahir nantinya.

“Kita minta masyarakat mau memberikan vaksin MR. Apa lagi MUI telah mengeluarkan fatwa mubah dan tentu diperbolehkan,” tukasnya.

Capaian pemberian vaksin MR bisa tercapai 100 persen butuh intervensi dari pemerintah Aceh. Asrinar menilai, Plt Gubernur Aceh sudah saatnya mengeluarkan instruksi kepada kabupaten/kota agar memfasilitasi vaksin MR pada anak-anak, sebelum terlambat.[acl]

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.