Adat Aceh yang Kian Terlupakan
Oleh: Alfiana
(Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala).
Perubahan zaman tidak selalu datang dengan cara merusak. Kadang, ia hadir dengan halus membuat sesuatu yang dulu dekat, perlahan terasa jauh, lalu akhirnya terlupakan. Dulu, setiap kampong di Aceh punya ritmenya sendiri. Orang-orang tahu kapan waktu yang tepat untuk turun ke sawah, bagaimana cara melamar, hingga bagaimana bersikap dalam suasana berduka.
Semua diatur, bukan oleh undang-undang, bukan oleh aplikasi, tetapi oleh sesuatu yang jauh lebih tua dari keduanya: adat. Dan adat itu hidup bukan di atas kertas, melainkan di dalam ingatan orang-orang tua yang duduk di serambi rumah panggung, di bawah cahaya panyoet seurungkeng. Namun serambi itu kini sering kosong. Dan panyoet seurungkeng itu sudah lama diganti lampu LED.
Salah satu yang paling terasa adalah perubahan pada tradisi hikayat. Dahulu, hikayat hadir sebagai sarana menyampaikan cerita sekaligus nilai-nilai kehidupan yang dibacakan dengan irama kadang berjam-jam, kadang semalam suntuk. Topik yang dibicarakan pun sangat beragam. Ada cerita tentang perang, roman cinta, nasihat hidup, dan kebesaran Allah.