Kini, Hikayat masih ada. Tapi ia lebih sering hidup di dalam arsip perpustakaan daripada bibir manusia. Lebih sering dipelajari di ruang akademik daripada dikumandangkan di bawah langit terbuka. Generasi yang bisa membacakannya dengan fasih semakin sedikit, dan mereka yang sedikit itu semakin tua.
Kondisi serupa juga terlihat pada Kenduri Blang. Ritual syukuran komunal yang dilakukan sebelum tanam padi dimulai dan saat tanaman padi mulai berbuah atau setelah panen. Tradisi ini dilakukan dengan berkumpul di tepi sawah, membaca doa bersama, memotong hewan dan makan bersama.
Tujuan nya untuk memohon keberkahan, hasil panen melimpah, terhindar dari hama serta mempererat silaturahmi dan gotong royong. Tapi sawah-sawah kini banyak yang berubah. Sebagian menjadi perumahan. Sebagaian ditinggalkan karena anak-anak pemiliknya memilih merantau ke kota.
Rumoh Aceh juga menyimpan hal yang sama. Rumoh Aceh, atau rumah panggung tradisional Aceh yang setiap bagian dari rumah ini memiliki makna, fungsi, dan filosofi tersendiri. Malai dari arah hadap rumah, tinggi tangga, hingga ukiran di dinding, semuanya mencerikatan tentang pandangan hidup masyarakat yang membangunnya.
Saat ini, Rumoh Aceh masih bisa kita temukan, tapi kebanyakan berdiri sebagai museum, objek foto wisata, atau bangun tua yang pemiliknya bingung mau diapakan. Tidak banyak yang memilih untuk membangunnya kembali. Selain karena biaya, juga karena dianggap kurang praktis dibandingkan rumah modern.