Adat Aceh yang Kian Terlupakan
Oleh: Alfiana
(Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala).
Perubahan zaman tidak selalu datang dengan cara merusak. Kadang, ia hadir dengan halus membuat sesuatu yang dulu dekat, perlahan terasa jauh, lalu akhirnya terlupakan. Dulu, setiap kampong di Aceh punya ritmenya sendiri. Orang-orang tahu kapan waktu yang tepat untuk turun ke sawah, bagaimana cara melamar, hingga bagaimana bersikap dalam suasana berduka.
Semua diatur, bukan oleh undang-undang, bukan oleh aplikasi, tetapi oleh sesuatu yang jauh lebih tua dari keduanya: adat. Dan adat itu hidup bukan di atas kertas, melainkan di dalam ingatan orang-orang tua yang duduk di serambi rumah panggung, di bawah cahaya panyoet seurungkeng. Namun serambi itu kini sering kosong. Dan panyoet seurungkeng itu sudah lama diganti lampu LED.
Salah satu yang paling terasa adalah perubahan pada tradisi hikayat. Dahulu, hikayat hadir sebagai sarana menyampaikan cerita sekaligus nilai-nilai kehidupan yang dibacakan dengan irama kadang berjam-jam, kadang semalam suntuk. Topik yang dibicarakan pun sangat beragam. Ada cerita tentang perang, roman cinta, nasihat hidup, dan kebesaran Allah.
Kini, Hikayat masih ada. Tapi ia lebih sering hidup di dalam arsip perpustakaan daripada bibir manusia. Lebih sering dipelajari di ruang akademik daripada dikumandangkan di bawah langit terbuka. Generasi yang bisa membacakannya dengan fasih semakin sedikit, dan mereka yang sedikit itu semakin tua.
Kondisi serupa juga terlihat pada Kenduri Blang. Ritual syukuran komunal yang dilakukan sebelum tanam padi dimulai dan saat tanaman padi mulai berbuah atau setelah panen. Tradisi ini dilakukan dengan berkumpul di tepi sawah, membaca doa bersama, memotong hewan dan makan bersama.
Tujuan nya untuk memohon keberkahan, hasil panen melimpah, terhindar dari hama serta mempererat silaturahmi dan gotong royong. Tapi sawah-sawah kini banyak yang berubah. Sebagian menjadi perumahan. Sebagaian ditinggalkan karena anak-anak pemiliknya memilih merantau ke kota.
Rumoh Aceh juga menyimpan hal yang sama. Rumoh Aceh, atau rumah panggung tradisional Aceh yang setiap bagian dari rumah ini memiliki makna, fungsi, dan filosofi tersendiri. Malai dari arah hadap rumah, tinggi tangga, hingga ukiran di dinding, semuanya mencerikatan tentang pandangan hidup masyarakat yang membangunnya.
Saat ini, Rumoh Aceh masih bisa kita temukan, tapi kebanyakan berdiri sebagai museum, objek foto wisata, atau bangun tua yang pemiliknya bingung mau diapakan. Tidak banyak yang memilih untuk membangunnya kembali. Selain karena biaya, juga karena dianggap kurang praktis dibandingkan rumah modern.
Tidak bisa dimungkiri, kehidupan modern menawarkan kemudahan. Segala sesuatu bisa dilakukan dengan lebih cepat dan efisien. Namun, dalam proses itu, ada hal-hal yang tanpa disadari mulai ditinggalkan.
Padahal, adat bukan hanya peninggalan masa lalu.
Ia merupakan hasil dari proses panjang masyarakat dalam memahami kehidupan. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, kearifan dalam berinteraksi dengan alam, serta etika sosial yang masih relevan hingga sekarang.
Karena itu, adat tidak harus dipertahankan secara utuh tanpa perubahan. Namun, setidaknya ia tetap dipahami dan dihidupkan dalam bentuk yang relevan dengan kehidupan sekarang. Jika tidak, ada kemungkinan suatu saat nanti adat hanya akan menjadi cerita yang didengar sekilas, tanpa benar-benar dirasakan.
Pada akhirnya, persoalannya bukan hanya tentang ada atau tidaknya adat. Yang lebih penting adalah apakah kita masih bersedia memberi ruang bagi adat untuk tetap hidup di tengah kehidupan kita hari ini?.