HABADAILY.COM - Bicara tentang rasa mungkin tidak akan ada habisnya. Aceh memiliki ragam cita rasa dalam sajian kulinernya, salah satunya di pesisir Seunudon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Di sana tersimpan sebuah kekayaan kuliner yang tak hanya menggugah selera, tetapi juga sarat akan nilai sejarah dan kearifan lokal.
Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Kuah Ie Laot, hidangan khas yang lahir dari kehidupan para nelayan yang akrab dengan laut dan segala keterbatasannya. Dari kebiasaan inilah Kuah Ie Laot tercipta sederhana, namun kaya rasa.
Baca Juga: Lima Rekomendasi Kuliner di Bireuen yang Tak Boleh Dilewatkan
Kehidupan masyarakat Seunudon didominasi oleh para nelayan yang setiap harinya melaut. Kondisi inilah yang mungkin mendorong mereka untuk mengolah sebuah mahakarya kuliner yang kini telah diwariskan secara turun temurun.
Dalam keadaan minim persediaan di atas perahu, mereka memanfaatkan apa yang tersedia di tengah laut. Ikan hasil tangkapan menjadi bahan utama, sementara air laut digunakan sebagai pengganti air tawar untuk memasak.
Proses Pembuatan
Proses memasaknya pun dilakukan dengan peralatan seadanya di atas perahu. Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan nilai kebersamaan yang mendalam. Kuah Ie Laot bukan sekadar makanan, tetapi juga menjadi momen untuk berbagi cerita dan mempererat hubungan antar nelayan di tengah laut.
Penggunaan air laut memberikan cita rasa gurih alami tanpa perlu tambahan garam. Dipadukan dengan ikan karang segar seperti kakap, serta bumbu sederhana seperti lada dan bawang merah yang ditumbuk secara tradisional, terciptalah sajian dengan aroma kuat dan rasa autentik yang khas.
Seiring berjalannya waktu, tradisi ini berkembang ke daratan dan mulai dikenal luas sebagai kuliner khas Aceh Utara. Kini, Kuah Ie Laot tidak hanya dinikmati oleh masyarakat lokal, tetapi juga mulai hadir di tempat-tempat kuliner modern, salah satunya di Sulthan Caffe yang berada di kawasan Bantaian, Kecamatan Seunudon.