HABADAILY.COM - Bicara tentang rasa mungkin tidak akan ada habisnya. Aceh memiliki ragam cita rasa dalam sajian kulinernya, salah satunya di pesisir Seunudon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Di sana tersimpan sebuah kekayaan kuliner yang tak hanya menggugah selera, tetapi juga sarat akan nilai sejarah dan kearifan lokal.
Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Kuah Ie Laot, hidangan khas yang lahir dari kehidupan para nelayan yang akrab dengan laut dan segala keterbatasannya. Dari kebiasaan inilah Kuah Ie Laot tercipta sederhana, namun kaya rasa.
Baca Juga: Lima Rekomendasi Kuliner di Bireuen yang Tak Boleh Dilewatkan
Kehidupan masyarakat Seunudon didominasi oleh para nelayan yang setiap harinya melaut. Kondisi inilah yang mungkin mendorong mereka untuk mengolah sebuah mahakarya kuliner yang kini telah diwariskan secara turun temurun.
Dalam keadaan minim persediaan di atas perahu, mereka memanfaatkan apa yang tersedia di tengah laut. Ikan hasil tangkapan menjadi bahan utama, sementara air laut digunakan sebagai pengganti air tawar untuk memasak.
Proses Pembuatan
Proses memasaknya pun dilakukan dengan peralatan seadanya di atas perahu. Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan nilai kebersamaan yang mendalam. Kuah Ie Laot bukan sekadar makanan, tetapi juga menjadi momen untuk berbagi cerita dan mempererat hubungan antar nelayan di tengah laut.
Penggunaan air laut memberikan cita rasa gurih alami tanpa perlu tambahan garam. Dipadukan dengan ikan karang segar seperti kakap, serta bumbu sederhana seperti lada dan bawang merah yang ditumbuk secara tradisional, terciptalah sajian dengan aroma kuat dan rasa autentik yang khas.
Seiring berjalannya waktu, tradisi ini berkembang ke daratan dan mulai dikenal luas sebagai kuliner khas Aceh Utara. Kini, Kuah Ie Laot tidak hanya dinikmati oleh masyarakat lokal, tetapi juga mulai hadir di tempat-tempat kuliner modern, salah satunya di Sulthan Caffe yang berada di kawasan Bantaian, Kecamatan Seunudon.
Kuah Ie Laot di Mata Duta Wisata Aceh Utara 2025
Muqsal Mina, Duta Wisata Aceh Utara 2025, menegaskan pentingnya menjaga kuliner tradisional ini sebagai identitas daerah.
“Kuah Ie Laot adalah bukti nyata bahwa masyarakat Aceh Utara memiliki kearifan lokal yang luar biasa dalam memanfaatkan alam. Ini bukan hanya soal rasa, tetapi tentang sejarah, perjuangan, dan nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagai Duta Wisata, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk terus memperkenalkan dan menjaga warisan ini agar tidak hilang ditelan zaman, serta dapat dikenal lebih luas hingga ke tingkat nasional bahkan internasional,” kata Muqsal Mina kepada Habadaily.com, Rabu (15/04/2026).
Muqsal Mina juga mengutip pengakuan Abu Bakar, salah satu tokoh masyarakat yang masih setia menjaga tradisi tersebut.
“Kuah Ie Laot ini adalah warisan yang dititipkan orang tua dulu sampai ke saya. Saya juga harus mewariskan ke generasi muda, agar tetap hidup dan bisa dirasakan oleh anak cucu kita nanti,” ungkapnya..
Pasangan Inong Duta Wisata Aceh Utara 2025, Nursyifa Syawani ini, turut menyampaikan pernyataan dari pemilik Sulthan Caffe yang mempelajari resep tersebut secara turun-temurun.
“Mereka belajar memasak kuah ini dari orang tua zaman dulu. Biasanya yang memesan justru orang luar daerah yang penasaran dengan rasa Kuah Ie Laot, sementara orang lokal sudah terbiasa memasaknya sendiri di rumah. Tapi ada juga beberapa pelanggan yang suka dan memesan berulang kali,” jelasnya.
"Kemarin kami sempat memesan untuk kebutuhan video seharga Rp200.000, sekalian dimasak langsung di depan kami. Alhamdulillah, kemarin kami dapat lima porsi," sebut Muqsal Mina, seraya menambahkan bahwa harga bisa bervariasi sesuai dengan pesanan.
Keunikan Kuah Ie Laot
Keunikan Kuah Ie Laot tidak hanya terletak pada bahan dan cara memasaknya, tetapi juga pada nilai yang terkandung di dalamnya. Hidangan ini mencerminkan kemampuan masyarakat dalam beradaptasi dengan lingkungan serta memanfaatkan sumber daya alam secara bijak.
Di tengah arus modernisasi, Kuah Ie Laot memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata kuliner. Wisatawan tidak hanya dapat menikmati rasanya yang khas, tetapi juga memahami cerita panjang di balik lahirnya hidangan ini.
Namun, tantangan ke depan adalah menjaga keaslian tradisi tersebut. Diperlukan kesadaran bersama, terutama dari generasi muda, untuk terus melestarikan cara memasak dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pelaku pariwisata juga menjadi kunci agar Kuah Ie Laot tetap berkembang tanpa kehilangan identitasnya.
Kuah Ie Laot bukan sekadar sajian, melainkan warisan budaya yang hidup, tentang laut, manusia, dan kreativitas dalam menghadapi keterbatasan.
"Penasaran dengan rasa Kuah Ie Laot?
Editor: Suryadi