Perjuangan Ibunda Husnul, Bocah Terinfeksi Rubella Sejak Lahir

September 11, 2018 - 21:23
Ilustrasi. Foto by Parenting
2 dari 3 halaman

"Ketika hasil tes keluar, saya positif kena virus rubella dan yang lainnya negatif. Virusnya sudah tidak aktif, tapi masih ada dalam badan saya," kata Husna.

Pada usia Husnul 10 bulan kembali harus menjadi operasi mata kedua kali. Operasi kali ini untuk pemasangan lensa pada mata Husnul agar bisa melihat. Memang seluruh biaya ditanggung Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), sehingga sedikit membuat ringan beban biaya yang ditanggung oleh Husna.

Tak hanya itu, Husnul juga mengalami gangguan pendengaran. Sehingga harus dipasang alat bantu mendengar. Harganya pun cukup mahal. Satu pasang alat bantu dengar dengan harga Rp 40 juta satu pasang. Alat bantu ini Husna harus merogoh kocek sendiri, karena BPJS dan JKA tidak menanggungnya.

“Perlu alat bantu mendengar, karena tuli berat. Jantung juga bocor, tapi alhamdulillah sekarang sudah sembuh,” ungkapnya.

Pada usia anak pertama empat bulan. Husna kembali hamil. Namun dewi fortuna berpihak kepadanya. Ternyata virus rubella yang ada dalam tubuh sudah menjadi daya tahan tubuhnya. Sehingga tidak lagi menular pada jaban bayi dalam kandung.

Anak kedua Husna terlahir dengan normal dalam kondisi sehat. Anak keduanya pun sekarang sudah tumbuh sehat layaknya anak lainnya. Keluarga kecil ini pun sudah memiliki dua si buah hatinya.

Namun kebahagian itu harus dibayar mahal dengan anak pertamanya yang tertular virus rubella sejak dalam kandungan. Sehingga selain pengobatan rutin seperti dikisahkan di atas. Sekarang bocah itu masih menjalani terapi satu minggu sekali.

Dalam sepekan Husna harus membawa si buah hatinya tiga kali untuk terapi di Banda Aceh dari Kabupaten Bireuen. Jarak tembuh Bireuen-Banda Aceh sekitar 150 kilometer.

Karena terapi yang harus dilakukan tiga kali dalam sepekan. Husna akhinya memutuskan untuk mengontrak rumah di Banda Aceh demi kesembuhan putrinya.

Tak terhitung biaya yang sudah dikeluarkan untuk pengobatan putrinya. Selama melakukan terapi, harus menggunakan dana sendiri. Karena BPJS tidak menanggung biaya tersebut.

“Setiap sekali terapi itu Rp 100.000. Beli alat bantu dengar itu juga dari uang sendiri,” ungkapnya.

Husnul adalah satu dari puluhan anak yang terlahir akibat terinfeksi virus rubella di Aceh. Mereka harus menjadi difabel akibat virus rubella atas kelalaian orang tua tidak memberikan vaksin campak dan rubella semasa usia 9 bulan hingga 15 tahun.

Husna berharap, pemerintah Aceh agar bisa mengintruksikan kepada seluruh orang tua di Aceh agar mau memberikan vaksin Measle-Rubella (MR). Melalui vaksin MR, metabolisme tubuh seseorang akan kuat, sehingga bisa mencegah terinfeksi virus yang cukup berbahaya tersebut.

Capaian vaksin MR di Aceh terbilang cukup rentah. Angka vaksin hingga sekarang baru mencapai 7 persen dari target 1,5 juta anak di seluruh Aceh. Tentu angka yang tidak menyenangkan ini cukup mengkhawatirkan dampak terhadap gerasi penerus anak di Serambi Mekkah.

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.