Kisah Iswandi Menembus Banjir di Bireuen: Perjuangan Menyelamatkan 11 Nyawa

December 20, 2025 - 12:38
Kisah Iswandi Menembus Banjir di Bireuen: Perjuangan Menyelamatkan 11 Nyawa. (FOTO: Suryadi KTB I HABADAILY.COM)
1 dari 3 halaman

HABADAILY.COM – Pagi itu, Rabu, 26 November 2025, pukul 06.30 WIB, ketenangan warga Desa Blang Mee, Kecamatan Kuta Blang, Bireuen, pecah seketika. Air datang dengan kecepatan luar biasa, merayap dari kaki gunung hingga mencapai pesisir laut, menenggelamkan harapan warga dalam sekejap.

Bagi Iswandi, momen itu bukan sekadar fenomena alam, melainkan ujian hidup yang mempertaruhkan keselamatan 11 anggota keluarganya. Di dalam rumahnya, terdapat enam orang anak, istri, mertua, hingga kakak ipar yang harus segera dievakuasi.

Di tengah guyuran hujan lebat yang menusuk tulang, Iswandi bertindak cepat. Tanpa memikirkan harta benda yang mulai terendam, ia memutuskan untuk menggendong anggota keluarganya satu per satu menembus kepungan banjir.

"Saya gendong mereka satu-satu di tengah hujan. Tidak ada waktu untuk memikirkan harta benda, yang penting nyawa anak-anak dan orang tua selamat," kenang Iswandi saat diwawancarai Habadaily.com, Sabtu (20/12/2025).

Awalnya, mereka mengungsi ke Jamboe Rapai yang tak jauh dari rumah. Namun, debit air yang kian deras memaksa mereka bergerak lebih jauh. Iswandi dan keluarganya akhirnya bergabung dengan sekitar 200 jiwa lainnya di SMA P Paya Ni. Di gedung sekolah itulah mereka bertahan hidup selama hampir dua minggu, hingga 10 Desember 2025.

Kisah di pengungsian meninggalkan luka mendalam. Iswandi menceritakan betapa menyedihkannya kondisi hari pertama di Jamboe Rapai. Dari pukul 07.00 pagi hingga 17.00 sore, ia menyaksikan ibu-ibu dan anak-anak bertahan dengan pakaian basah kuyup di badan hingga menggigil kedinginan.

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.