"Bagi perempuan yang mau tawaf Ifadah tapi ia masih dalam keadaan haid, sementara ia sudah harus segera pulang ke Tanah Air, maka ia bisa bertawaf dengan cara mandi sampai bersih lalu membalut haid hingga dipastikan tidak menetes di area tawaf dan area Masjidil Haram," jelasnya.
Menurut Moqsith, kondisi ini tidak bisa dihindari karena bukan jemaah haji Indonesia yang mengatur kepulangan ke Tanah Air. "Kita sudah diatur oleh sistem kepulangan ke Tanah Air. Jadi yang belum dalam keadaan Tahallul penuh atau belum tawaf Ifadah, tapi dia masih masih berhalangan, maka diperbolehkan tawaf dalam keadaan haid dengan cara seperti itu," paparnya.
Begitu pula, apabila jemaah haji perempuan yang masih haid hendak bergerak dari Madinah menuju Makkah, ia sudah bisa melakukan niat umrah wajib dari Bir Ali. Namun begitu sampai di Makkah, ia harus menunggu dalam keadaan suci untuk melakukan umrah wajib, dan tentunya menjaga keadaan ihramnya.
Selain haid, permasalahan lainnya adalah tawaf yang disyaratkan harus berwudhu, sebagaimana menunaikan salat. Ketika tawaf, potensi bersentuhan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram sangat tinggi karena berdesak-desakan.