Gandeng Akademisi, MAPESA Gelar FGD Bahas Nasib Warisan Sejarah Islam di Aceh

January 15, 2026 - 14:31
MAPESA Kegiatan FGD Kolaborasi MAPESA dan PUSAKA UIN Ar-Raniry di Lantai II Gedung Museum setempat, berlangsung di Lantai II Museum UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Kamis (15/1/2026). (FOTO: HO I MAPESA I HABADAILY.COM)
1 dari 3 halaman

HABADAILY.COM - Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA) bersama Pusat Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam (PUSAKA) UIN Ar-Raniry menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas masa depan penelitian dan pelestarian warisan sejarah kebudayaan Islam di Aceh.

Kegiatan ini bertujuan melahirkan rekomendasi konkret agar bukti-bukti sejarah Aceh tidak hilang ditelan zaman. Kegiatan FGD ini terselenggara berkat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Wakil Ketua MAPESA, Masykur Syafrudin, mengungkapkan keprihatinannya terhadap minimnya literasi sejarah di kalangan masyarakat. Ia menyoroti kondisi benda arkeologi yang rusak karena kurang perhatian, hingga hilangnya artefak akibat diperjualbelikan ke luar Aceh.

"Musibah banjir yang melanda Aceh baru-baru ini turut merusak warisan dan tinggalan Aceh. Bahkan, manuskrip-manuskrip kuno hilang saat berada di tangan masyarakat, baik saat bencana terjadi maupun faktor lainnya," kata Masykur, saat berlangsung di Lantai II Museum UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Kamis (15/1/2026).

Masykur mengaku, selama ini, MAPESA konsisten melakukan penyelamatan melalui program ikonik Meuseuraya, yang mencakup survei lapangan, digitalisasi, hingga pembersihan situs nisan dan manuskrip.

"Kita berharap FGD ini melahirkan rekomendasi dan output agar nasib warisan sejarah Aceh tak hilang begitu saja. Selain penyelamatan, pengembangan ilmu pengetahuan ini harus bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas," tambahnya.

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.