Hasbi Burman: Penyair Gaek dengan Kemurnian Karya

November 29, 2023 - 11:34
Hasbi Burman, saat tampil dipanggung Roadshow Kesenian Berbasis Gampong yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, di Lubok Sukon, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, Senin malam, 27 November 2023. FOTO Doc Disbudpar Aceh
2 dari 3 halaman

Dadamu yang mengalir air
Dari sebuah puting susu yang jernih
Terjadi cinta-cinta kecil
Yang mengejutkan dari igau
Bersama lantunan “Bahtera Merdeka”

Di bawah pinggang yang meliuk
Hasbi Burman –Doel CP Allisah terpana
Dengan gerak-gerik yang meluluhkan
Bahasa bunda
Kami berkemas menuju “bilik” mu
Yang sempurna.

Doel CP Allisah yang disebut Hasbi Burman dalam puisinya itu merupakan penyair Aceh yang juga jurnalis. Almarhum Doel pernah membentuk dan menjadi memimpin Aliansi Sastrawan Aceh (ASA). Bagi Hasbi Burman, Doel adalah kawan yang baik dalam segala suasana, karya-karyanya murni. Beda dengan sekarang, banyak penyair plagiat, yang oleh sang Presiden Rex dicap sebagai “Seniman Mantel” Ya, seniman berbaju mantel. “Baju mantel bisa dibeli dan dikenakan untuk menipu penampilan, tapi karya yang murni tidak,” kata Hasbi Burman. Ia pun menyebutkan beberapa penyair muda Aceh yang karya-karya mereka terindikasi plagiat.

Bagi Hasbi Burman, kemurnian sebuah karya itu harus terus dijaga. Menulis puisi baginya juga bukan untuk mencari materi, tapi menyuarakan isi hati dan lingkungan kehidupannya. Ya, Hasbi Burman telah melalui jalan panjang dalam dunia kepenyairan Aceh. Ia menjadi salah satu sastrawan ikonik.

Hasbi Burman saat di wancarai jurnalis, iskandar Norman di Lubok Sukon, Aceh Besar, 27 November 2023. FOTO SURYADI KTB

Sejak muda ia sudah menggeluti dunia sastra secara otodidak, konflik Aceh yang dilanda perang kemudian membuat Hasbi Burman hijrah dari kampungnya di Lhok Buya ke Banda Aceh. Untuk bertahan hidup di ibu kota provinsi itu ia menjadi tukang parker. Awalnya di jalan Perdagangan, kemudian pindah ke Rex Peunayong. Saat menjadi tukang parkir di Rex Peunayong inilah jebatan “Presiden Rex” disematkan padanya oleh jurnalis Kompas yang juga sastrawan Bre Redana.

Hasbi Burman melanjutkan kisahnya, pada tahun 1989 ketika surat kabar Aceh, Mimbar Swadaya dibeli oleh group Kompas dan diubah menjadi koran harian Serambi Indonesia, ada enam wartawan Kompas yang dikirim ke Banda Aceh, salah satunya Bre Redana.

Bre Redana sering mangkal pusat kuliner Rex Penayong, ia sering bercakap-cakap dengan Hasbi Burman di sana. Mengetahui Hasbi Burman seorang penyair, Bre Redana tertarik untuk menulis kisahnya. Suatu sore Bre Redana bersama wartawan Serambi Indoneia, Helmi Hass berkunjung ke rumah Hasbi Burman. Ia diwawancara panjang lebar. Hasilnya dimuat di Kompas satu halaman penuh, dalam tulian Bre Redana itu, Hasbi dijuluki “Presiden Rek” yang hingga kini melekat menjadi nama panggilannya.

Malam terus menanjak, gigil akibat gerimis makin kentara, di panggung depan tenda pertunjukan telah dimulai. Hingga kemudian tiba waktunya Hasbi Burman dipanggil untuk tampil berkolaborasi bersama seniman gaek Aceh lainnya Udin Pelor.

Berita ini disiarkan atas kerja sama antara Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Aceh, Bidang Bahasa Dan Seni dengan (Media HABADAILY.COM)

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.