Baginya, menulis puisi adalah panggilan jiwa. Karena itu pula ia sering menolak ketika ada yang memintanya menulis puisi dadakan. Ia berdalih, puisi itu adalah ilham, bukan surat cinta yang bisa ditulis kapan saja. Ketika ilham itu ada, maka menulis puisi begitu mudah baginya dalam segala suasana.
HABADAILY.COM - Ia penyair otodidak, puisinya banyak bercerita tentang alam, cinta dan daerah terpencil. Senin malam, 27 November 2023 di panggung Roadshow Kesenian Berbasis Gampong yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, di Lubok Sukon, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, pria berjuluk Predisen Rex ini mendeklamasikan puisinya.
Malam baru saja turun bersama rintik gerimis di lapangan desa Lubok Sukon, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar. Di sebuah tenda depan panggung pertunjukan, beberapa orang duduk, salah satunya Hasbi Burman. Usianya tidak muda lagi, sudah 68 tahun, tapi demi berpuisi dia rela melawan gigil malam itu. “Saya diantar anak tadi ke sini,” katanya mengawali pembicaraan.
Pria kelahiran Lhok Buya, Kecamatan Setia Bakti, Kabupaten Aceh Jaya, 9 Agustus 1955 ini merupakan penyair otodidak yang dijuluki harian Kompas sebagai Presiden Rex. Kisahnya dengan julukan itu sudah melegenda. Bahkan di kalangan seniman Aceh ia dipanggil Sang Presiden.
Baginya, menulis puisi adalah panggilan jiwa. Karena itu pula ia sering menolak ketika ada yang memintanya menulis puisi dadakan. Ia berdalih, puisi itu adalah ilham, bukan surat cinta yang bisa ditulis kapan saja. Ketika ilham itu ada, maka menulis puisi begitu mudah baginya dalam segala suasana.
Ia kemudian mengeluarkan dua lembar kertas HVS dari saku belakang celananya. Ia perlihatkan dua puisi yang difoto copy dari buku antologi puisi miliknya, Sekeping Hati yang Tinggal. Antologi ini diterbitkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, memuat 270 puisi miliknya. Itu satu-satunya antologi milik Sang Presiden yang diterbitkan, selebihnya, ratusan bahkan mungkin ribuan puisinya dimuat di berbagai buku antologi bersama dan di berbagai media.
Hasbi Burman memperlihatkan dua puisi di kertas HVS itu, satu berjudul Halo Indonesia, satu lagi Di Sudut Kuala Lumpur. Puisi ini akan dibaca di atas panggung. Ia begitu bersemangat bercerita ihwal terciptanya puisi itu. Katanya, dalam suatu lawatan ke Malaysia pada September 2002, ketika duduk bersama seniman di Petalingjaya, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad menghampiri mereka. “Mahathir datang jalan kaki, duduk bersama kami berakrab-akrab ria,” kenangnya.
Hasbi Burman sang Presiden Rex, penyair senior maestro sastra Aceh. tak melewatkan kesempatan itu, imajinasinya muncul. Ia pun menulis:
Pada keningmu masih ada bayang-bayang
Mahathir Muhammad menggali kebenaran
Dari onggok-onggok bangsa yang menyatu
Bersama paduan suara
Perawan-perawan yang menghijau
Selimut angin Melayu
Dadamu yang mengalir air
Dari sebuah puting susu yang jernih
Terjadi cinta-cinta kecil
Yang mengejutkan dari igau
Bersama lantunan “Bahtera Merdeka”
Di bawah pinggang yang meliuk
Hasbi Burman –Doel CP Allisah terpana
Dengan gerak-gerik yang meluluhkan
Bahasa bunda
Kami berkemas menuju “bilik” mu
Yang sempurna.
Doel CP Allisah yang disebut Hasbi Burman dalam puisinya itu merupakan penyair Aceh yang juga jurnalis. Almarhum Doel pernah membentuk dan menjadi memimpin Aliansi Sastrawan Aceh (ASA). Bagi Hasbi Burman, Doel adalah kawan yang baik dalam segala suasana, karya-karyanya murni. Beda dengan sekarang, banyak penyair plagiat, yang oleh sang Presiden Rex dicap sebagai “Seniman Mantel” Ya, seniman berbaju mantel. “Baju mantel bisa dibeli dan dikenakan untuk menipu penampilan, tapi karya yang murni tidak,” kata Hasbi Burman. Ia pun menyebutkan beberapa penyair muda Aceh yang karya-karya mereka terindikasi plagiat.
Bagi Hasbi Burman, kemurnian sebuah karya itu harus terus dijaga. Menulis puisi baginya juga bukan untuk mencari materi, tapi menyuarakan isi hati dan lingkungan kehidupannya. Ya, Hasbi Burman telah melalui jalan panjang dalam dunia kepenyairan Aceh. Ia menjadi salah satu sastrawan ikonik.

Sejak muda ia sudah menggeluti dunia sastra secara otodidak, konflik Aceh yang dilanda perang kemudian membuat Hasbi Burman hijrah dari kampungnya di Lhok Buya ke Banda Aceh. Untuk bertahan hidup di ibu kota provinsi itu ia menjadi tukang parker. Awalnya di jalan Perdagangan, kemudian pindah ke Rex Peunayong. Saat menjadi tukang parkir di Rex Peunayong inilah jebatan “Presiden Rex” disematkan padanya oleh jurnalis Kompas yang juga sastrawan Bre Redana.
Hasbi Burman melanjutkan kisahnya, pada tahun 1989 ketika surat kabar Aceh, Mimbar Swadaya dibeli oleh group Kompas dan diubah menjadi koran harian Serambi Indonesia, ada enam wartawan Kompas yang dikirim ke Banda Aceh, salah satunya Bre Redana.
Bre Redana sering mangkal pusat kuliner Rex Penayong, ia sering bercakap-cakap dengan Hasbi Burman di sana. Mengetahui Hasbi Burman seorang penyair, Bre Redana tertarik untuk menulis kisahnya. Suatu sore Bre Redana bersama wartawan Serambi Indoneia, Helmi Hass berkunjung ke rumah Hasbi Burman. Ia diwawancara panjang lebar. Hasilnya dimuat di Kompas satu halaman penuh, dalam tulian Bre Redana itu, Hasbi dijuluki “Presiden Rek” yang hingga kini melekat menjadi nama panggilannya.
Malam terus menanjak, gigil akibat gerimis makin kentara, di panggung depan tenda pertunjukan telah dimulai. Hingga kemudian tiba waktunya Hasbi Burman dipanggil untuk tampil berkolaborasi bersama seniman gaek Aceh lainnya Udin Pelor.
Meski sudah berusia lanjut, Hasbi Burman masih energik mendeklamasikan pusi Di Sudut Kuala Lumpur, penonton bersorak-sorai. Setelah mengakhiri puisinya, Hasbi Burman kemudian melanjutkan mendeklamasikan sebuah puisi berbahasa Aceh, syair-syair indah dengan Bahasa meuantok keluar begitu saja tanpa teks. Ia telah menghafalnya, sebuah puisi yang bercerita tentang perbedaan kehidupan pejabat dan rakyat jelata. Banyak kritik sosial yang disematkan dalam karyanya. Teruslah berkarya Pak Presiden.
Kabid Bahasa dan Seni, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Nurlaila Hamzah menyampaikan, beragam upaya terus dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh untuk mempromosikan dan melestarikan warisan budayanya. Salah satuya melalui roadshow kesenian berbasis gampong.
Roadshow kesenian bertajuk ‘Jaga Adat Wareh Indatu’ tersebut diselenggarakan di Lapangan Bola Kaki, Desa Wisata Lubuk Sukon, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, Senin malam, 27 November 2023.
Kebudayaaan merupakan identitas yang lahir dan diciptakan oleh pendahulu melalui daya pikir dan kreativitas yang tinggi. Oleh sebab itu, nilai-nilai dan filosofi yang terkandungnnya sampai saat ini masih relevan dan patut dipertahankan.

“Disbudpar hadir bersama beberapa seniman senior untuk menggali seni budaya, dan hari ini kita mulai dari gampong. Atas partisipasi dan semua unsur yang terlibat kami ucapkan terima kasih atas kontribusinya sehingga acara ini dapat berjalan dengan baik,” tutupnya.