“Kakek-nenek kita dulu, begitu dalam bertindak, segala hal yang mereka lakukan, tidak campur aduk. Mereka tidak mencampur-campurkan satu urusan dengan persoalan yang lain,” ujar Nyakman.
Ketika menyaksikan pertunjukan, para penonton itu bisa memusatkan perhatian terhadap gambaran-gambaran yang ditampilkan oleh para pemain. Dengan begitu, apa yang ditampilkan tesebut mampu dicerna dengan baik oleh para penonton dan melekat seketika di hati mereka. Setiap pertunjukan akan membekas di benak mereka.
Seniman ataupun grup pemain mobmob berasal dari berbagai daerah yang ada di Aceh. Namun, sekarang, anggota grup yang ada berasal dari daerah pesisir Aceh seperti Pidie, Aceh Utara, Aceh Besar, dan tempat lainnya. Meskipun para pemain mobmob berasal dari daerah berbeda-beda, aturan main tetap sama. Hanya ada sedikit perbedaan kecil pada gaya, yang mengikuti karakter pemain itu sendiri.
Nyakman memimpin grup mobmob Sanggar Meurak Jeumpa Aceh. Dia sudah bertahun-tahun lalu menggeluti dunia seni ini. Dari menggumpulkan data tentang seni mobmob, mencari para pemain (sisa pemain puluhan tahun lalu), sampai mencari rekanan untuk membuat pertujukan mobmob. Berkat usaha keras Nyakman Lamjame, hari ini pelaku seni mobmob bisa hadir di antara kita dan pertunjukan biola Aceh pun dapat dinikmati kembali oleh khalayak ramai.
Karena rasa peduli yang tinggi dari Nyakman, maka seni tersebut bisa kita nikmati lagi sampai sekarang. Adapun para pemain mobmob yang ada sekarang adalah sisa pelakon masa silam, dan mereka semua berasal dari Aceh Utara.
“Semua yang ada dari Aceh Utara. Mereka ada yang dari Sawang, Nisam, Simpang Keuramat, Krueng Mane, dan sebagainya,” kata Nyakman, tentang anggota mobmob di bawah naungan Sanggar Meurak Jeumpa Aceh miliknya.
Di dalam pertunjukan mobmob, banyak berkisah tentang cerita rumah tangga, semua polemik yang ditampilkan merupakan gambaran, kejadian, persoalan-persoalan yang sering, umum terjadi di dalam bahtera rumah tangga. Umpama selisih paham, beda pendapat, adanya kecemburuan dan lain sebagainya antara suami dan istri.
Peran ayah atau mertua yang diperankan oleh Syekh Kawi, itulah penengah. Dialah yang bertugas untuk menyelesainkan persoalan yang terjadi antara linto (diperankan oleh Syekh Habibi) dan dara baro (diperankan oleh Syekh Ghani) ketika keduanya berselisih pendapat. Tatkala keduanya melaporkan perselisihan itu kepada ayah atau mertua, maka tugas Syekh Kawi adalah mendamaikan.
Nyakman berkata, biola Aceh tersebut tidak kalah menariknya dengan seni opera, baik opera barat mahupun opera timur. Bahkan katanya, lebih menarik dan lebih spesifiknya mobmob yang kita warisi sekarang, karena isi yang terkandung di dalam mobmob banyak nasehatnya. Jika opera yang ada di barat mahupun timur, isinya itu hanya fokus pada seni suara, musik dan seni tari. Memang, di dunia barat opera punya grup dan tampil beramai-ramai juga di atas panggung, bahkan jumlah pelakonnya melebihi lima orang. Ada juga yang mencapai puluhan orang sekali tampil dan bukan hanya memakai biola. Berbeda halnya di Aceh, pemain mobmob cuma tiga orang.