Keluarga Bom Bunuh Diri: Hobi Wisata, Posting Senjata, dan Panahan

May 14, 2018 - 12:24
Petugas memadamkan api yang membakar sejumlah sepeda sesaat setelah terjadi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). ANTARA FOTO/HO/HUMAS PEMKOT-Andy Pinaria/MA/tirto.id
3 dari 3 halaman

Sekitar pukul 6.30, YF dan FH berusaha menerobos pintu masuk gereja itu, saat dihadang satpam, bom itu meledak. Dita, Puji, dan kedua anaknya menyaksikan aksi kedua anak laki-lakinya. Belum jelas apakah ledakan bom itu dipicu dari jarak jauh atau tidak.

Kemudian Dita menuju Gereja Kristen Indonesia di Jalan Raya Diponegoro, jaraknya sekitar 5 kilometer dari gereja sebelumnya. Di dekat gereja itu Puji beserta dua anak perempuannya turun. Sedangkan Dita sendirian menuju Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Dr Soetomo, hanya berjarak 1 kilometer dari gereja sebelumnya.

Dita langsung menabrakkan mobilnya di pintu gerbang GPPS dan secara bersamaan bom berdaya rusak tinggi meledak pukul 7.15.

Di sisi lain, Puji kesulitan saat berusaha menerobos masuk ke halaman GKI. Begitu dapat kesempatan masuk, mereka dihadang satpam. Puji berusaha memeluk, tapi satpam itu berusaha menghindar.

“Saat itulah bom meledak. Petugas selamat dan hanya pelaku serta kedua anaknya yang menjadi korban," ungkap Tito di Surabaya, Minggu (13/5/2018). Bom yang melekat di tubuh Puji dan kedua putrinya meledak pukul 7.50.

Sejauh ini bom bunuh diri di ketiga gereja itu menewaskan 13 korban jiwa dan 41 korban luka-luka.

Baca juga artikel terkait TEROR BOM GEREJA SURABAYA atau tulisan menarik lainnya Dieqy Hasbi Widhana
(acl/tirto.id)

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.