Keluarga Bom Bunuh Diri: Hobi Wisata, Posting Senjata, dan Panahan

May 14, 2018 - 12:24
Petugas memadamkan api yang membakar sejumlah sepeda sesaat setelah terjadi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). ANTARA FOTO/HO/HUMAS PEMKOT-Andy Pinaria/MA/tirto.id
2 dari 3 halaman

Dalam salah satu postingan akun Facebook sekolah mereka pada 28 Maret 2015, YF dianggap siswa yang inspiratif. Dalam postingan itu dijelaskan bahwa FH adalah siswa kelas 8 yang tengah berusaha menghafal 30 Juz dalam Alquran.

“Di sekolah juga sebagai Ketua IPM (Osis). Pandai membagi waktu, jujur, dan amanah,” tulis akun resmi sekolah itu.

Di rumah, Dita memberikan komputer berserta koneksi internet. Kedua putranya memanfaatkan untuk bermain game online. YF dan FH hobi bermain Counter Strike (CS), game online saling bunuh antara tim teroris dengan tim polisi. Keduanya beberapa kali mengunggah foto senjata yang ada dalam CS ke media sosial.

Dua anak Dita yang lain perempuan: FS, 12 tahun dan PR, 9 tahun.

Di bagian belakang rumah keluarga itu ada lesan panah atau papan target panahan. “Ada anak panah dan busurnya menancap, terlihat sering digunakan keluarga tersebut,” kata Kapolrestabes Surabaya Kombes Rudi Setiawan.


Bunuh Diri di Tiga Gereja

Minggu pagi, Dita mengendarai salah satu mobilnya. Dia bersama Puji dan kedua putrinya yang mengenakan cadar. Sedangkan kedua anak laki-lakinya berboncengan mengendari motor.

Puji dan kedua putrinya memakai bom yang disabukkan di bagian pinggang. Salah satu dari kedua anak laki-lakinya memangku tas ransel berisi bom. Sedangkan Dita menyimpan bom dalam mobilnya.

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menjelaskan, keluarga itu awalnya ke Gereja Katolik Santa Maria tak Bercela di Ngagel Madya. Letaknya sekitar 9 kilometer dari kediaman para pelaku.

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.