Dua, Fase Anal (2-3 tahun), fase ini berlangsung saat pemenuhan kenikmatan seksual anak berada pada daerah anus dan sekitarnya, contohnya ketika anak buang air besar atau kecil.
Tiga, Fase Phallic (3-6 tahun), pase ini menjelaskan bahwa kenikmatan seksual dialami anak saat alat kelaminnya mengalami sentuhan atau rabaan, di mana fase ini anak telah mulai mengenali perbedaan lawan jenis.
Empat, Fase Laten (6-11 tahun), fase ini aktivitas seksual yang dialami anak telah mulai berkurang dikarenakan anak sedang fokus pada perkembangan fisik. Ini dikarenakan kognitif mereka mulai memasuki masa sekolah.
Lima, Fase Genital (12 tahun ke atas), merupakan fase terakhir tahap perkembangan psiko seksual. Hal ini dikarenakan organ seksual dan hormone seksual pada diri anak mulai aktif, sehingga anak sudah menikmati aktivitas seksual secara sadar.
Fase-fase yang menjadikan pendidikan seks tersebut harus sedini mungkin disosialisasikan kepada anak. Tentunya harus dimulai dari hal-hal kecil, seperti toilet dipisahkan antara pria dan wanita. Kemudian memberikan edukasi bagian-bagian mana yang harus dijaga dan tidak boleh disentuh oleh lawan jenis.
Pemahaman tersebut penting diedukasikan kepada anak sejak dini. Jika tidak disosialisasikan, mereka anggap organ sensitive tersebut hal yang lumrah untuk disentuh dan dipegang-pegang.
Karena itu, dengan adanya pendidikan seks atau sosialisasi seksual, tentu bisa menjadikan anak lebih matang dalam hal psikologi dan emosional. Harapan kita, melalui pendidikan dan pemahaman-pehaman seksual yang kita tanamkan terhadap anak dan remaja, sehingga mereka terhindar dari perilaku seks menyimpang.
Selain itu, melalui edukasi tersebut, tentunya anak-anak dan remaja dapat memproteksi diri dari tindakan pelecehan seksual yang mengintainya setiap saat. Ingat, predator anak bertebaran di mana-mana, tidak terkecuali di lingkungan terdekat anak itu sendiri.[]