Ihwal Diskriminasi Kuota Pegawai Picu Kerusuhan Besar di Bangladesh

July 19, 2024 - 11:19
Cuplikan bentrokan massa di Bangladesh. [Dok. Youtube DW]
2 dari 3 halaman

Menyusul kematian pertama dalam kekerasan yang meletus pada Selasa lalu, pemerintah meminta kampus-kampus di seluruh negara itu untuk tutup, dengan tujuan meredakan kerusuhan. Sementara polisi menggerebek markas besar partai oposisi utama yang dituding terlibat dalam kerusuhan.

Bentrokan terus berlanjut pada Kamis saat para pengunjuk rasa mencoba memblokade sejumlah wilayah. Di lingkungan Uttara, Dhaka, polisi mengejar ratusan pengunjuk rasa setelah mereka memblokir jalan dan meneriakkan yel-yel. Di lokasi lain, polisi menembakkan gas air mata dan menggunakan tongkat untuk membubarkan pengunjuk rasa, yang dibalas dengan hujaman batu dari demonstran. 

Polisi mengatakan pengunjuk rasa merusak mobil polisi dan membakar pos polisi lalu lintas. Puluhan orang, termasuk petugas polisi, terluka dalam kekerasan tersebut. Pendemo juga memblokir beberapa jalan raya utama di seluruh negeri. Kekerasan di kota-kota lain termasuk Chattogram dan Khulna terus merebak.

Lalu lintas sepi di jalanan ibu kota, Dhaka, yang biasanya macet. Sementara banyak mall tutup. Kantor dan bank tetap dibuka, tetapi transportasi terbatas.

Kebijakan Sempat Dibekukan Tahun 2018

Pemerintah Hasina sebelumnya sempat menghentikan kuota pegawai ini saat protes besar-besaran mahasiswa terjadi pada 2018. Namun bulan lalu, Pengadilan Tinggi Bangladesh membatalkan keputusan tersebut, dan memberlakukan kembali kuota setelah kerabat veteran 1971 mengajukan petisi. Hal ini lah yang memicu demonstrasi terbaru.

Mahkamah Agung kemudian menangguhkan putusan pemberlakuan kembali kuota itu. Mereka menegaskan, akan merilis putusan resmi paling lambat 7 Agustus nanti. Pemerintah juga telah mengajukan banding atas keputusan Pengadilan Tinggi menyusul protes tersebut, menurut kantor jaksa agung.

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.