Seni tradisional dalam pentuk pertandingan ini dilakukan dalam dua bentuk; duduk (uroeh duek), dan berdiri (ureh döng). Posisi kedua uroeh ini menciptakan penampilan yang sangat berbeda. Pada posisi duduk, rapai yang digunakan berukuran lebih kecil dengan diameter kurang lebih 40 centi meter sementara pada posisi berdiri, rapai paling tidak memiliki diameter 60 centi meter yang sering disebut rapai Pasee.

Uroeh duek dilakukan dalam formasi melingkar berlapis sementara pada uroeh döng dilakukan dalam formasi berdiri berjajar dilengkapi dengan kayu penggantung rapai untuk masing-masing pemain. Rapai Uroeh dimainkan dalam berbagai kesempatan mulai dari silahturahmi antar kampung hingga festival seni dan musik.
Pertunjukan Rapai Uroeh biasa dimainkan setelah masa panen padi berakhir. Pada kesempatan lain, Rapai Uroeh dimainkan pada festival dan pagelaran seni hingga pembukaan kegiatan pemerintah.
Kabid Bahasa dan Seni, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Nurlaila Hamzah menyampaikan, beragam upaya terus dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh untuk mempromosikan dan melestarikan warisan budayanya. Salah satuya melalui roadshow kesenian berbasis gampong.
Seni dan Budaya merupakan identitas yang lahir dan diciptakan oleh pendahulu melalui daya pikir dan kreativitas yang tinggi. Oleh sebab itu, nilai-nilai dan filosofi yang terkandungnnya sampai saat ini masih relevan dan patut dipertahankan.
Nurlaila mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah Aceh terhadap seni dan budaya Aceh agar terus aksis di kalangan masyarakat.
"Kegitan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap seni dan kebudayan aceh agar terus aksis di kalangan masyarakat. “Disbudpar hadir bersama beberapa seniman senior untuk menggali seni budaya, dan hari ini kita mulai dari gampong. Atas partisipasi dan semua unsur yang terlibat kami ucapkan terima kasih atas kontribusinya sehingga acara ini dapat berjalan dengan baik,” tutupnya. []