“Kalau pengrajin rapai ukuran kecil itu ada, di Krueng Mane dulu ada Utoh Raman (Abdurrahman), tapi sekarang hanya buat rapai ukuran kecil saja, karena untuk ukuran besar susah mencari bahan,” ungkap Safrizal.

Safrizal mengungkapkan, dulu pertnjukan rapai uroh dilakukan semalam suntuk, sejak usai shaat isya hingga menjelang subuh. Penabuhnya silih berganti, para pemuda dan orang tua akan antri bahkan duduk di bawah rapai yang sedang ditabuh orang lain, agar bisa melanjutkan menjadi penabuhnya.
Zaman dulu saat tunang antara satu kelompok dengan kelompok lain hanya dibatasi oleh pagar bambu. Di atas pagar itu diletakkan puluhan lampu teplok sebagai penerang. Lidah api dari setiap lampu teplok itu juga menjadi penda kelompok mana yang menang. Suara tabuhan rapai yang dominan akan membuat lidah api condong ke arah lain. “Jadi ke mana lidah api lampu teplok itu rebah, kelompok itulah yang kalah, karena suara rapai kelompok sebelah lebih dominan,” ungkap Safrizal.
Namun ketika konflik melanda Aceh, pertunjukan rapai uroh tidak pernah digelar. Hingga kemudian bangkit kembali setelah Aceh damai pada 2005. Bahkan Aceh Monitoring Mission (AMM) yang mengawal perdamain Aceh menjadikan tabuhan rapai sebagai media kampanye perdamaian.
Saat kampanye Aceh Damai bersama AMM itu, Safrizal bersama para penabuh rapai Pase pernah menabuh rapai sepanjang jalan di atas truk bak terbuka dari Kota Banda Aceh hingga ke Pereulak Kabupaten Aceh Timur dalam acara bertajuk Uroeh Taloe Rhet.
Dengan rapai warisan Endatu itu, Safrizal bersama kelompok Rapai Pase Raja Buwah telah melakukan pertunjukan ke seantero Nusantara, bahkan ke beberapa negara. Ia pernah melakukan pementasan bersama Iwan Fals di Taman Ismail Marzuki pada 1993, juga di Bali bersama seniman manca negara. Pernah juga menabuh rapai di Thailand dan Korea pada 2003. “Kalau even lokal dan nasional itu sudah sering,” tambah Safrizal.
Pertunjukan Rapai Uroh atau yang kini dikenal Rapai Pase sudah berkembang sejak abad ke-11, diciptakan oleh Syech Rapi atau Syech Rifai, seorang penyair dari Baghdad yang ikut bersama rombongan ulama Timur Tengah menyebarkan agama Islam ke Aceh.
Rapai Uroeh merupakan seni tradisional masyarakat Aceh yang lahir di wilayah Aceh Utara dan berkembang di pesisir timur Aceh. Rapai Uroeh menampilkan permainan memukul rapai yang dimainkan secara berkelompok, sekurang-kurangnya terdiri dari dua belas orang penabuh rapai dan satu orang khali. Uroeh diartikan sebagai pertandingan sehingga permainan atau pertunjukan Rapai Uroeh merupakan pertunjunkan pertandinagn diantara dua kelompok (biasanya dari dua kampung yang berbeda) yang saling berhadap-hadapan memainkan penampilan terbaiknya.