Sosialisasi Museum Bustanussalatin

December 5, 2022 - 16:23
Sosialisasi Museum Bustanussalatin di Museum Aceh, Senin (05/12/2022). FOTO (Suryadi KTB/Haba Daily)
1 dari 3 halaman

Abad ke 16 sampai abad 18 merupakan puncak lahirnya Ulama-ulama besar tersebut diantaranya, Syeikh Hamzah Fansuri, Syeikh Syamsuddin as-Sumatrani, Syeikh Abdurrauf as- Singkili, Syeikh Nuruddin ar- Raniry dan beberapa nama besar lainnya

HABADAILY.COM - Aceh memiliki banyak ulama besar yang mehasilkan karya-karya besar berupa kitab/manuskrip kuno yang membahas berbagai macam kajian ilmu pengetahuan seperti ilmu agama, tafsir al-Qur’an, obat obatan, astronomi, sastra/hikayat dll.

Abad ke 16 sampai abad 18 merupakan puncak lahirnya Ulama-ulama besar tersebut diantaranya, Syeikh Hamzah Fansuri, Syeikh Syamsuddin as-Sumatrani, Syeikh Abdurrauf as- Singkili, Syeikh Nuruddin ar- Raniry dan beberapa nama besar lainnya

Dalam pembahasan ini lebih difokuskan pada salah satu ulama yakni Nuruddin ar-Raniry melalui salah satu karyanya yang berjudul Bustanussalatin.

Syeikh Nuruddin ar-Raniry diperkirakan lahir pada abad ke-16 di kota Ranir India atau tepatnya di wilayah Surat, Gujarat pantai barat India. Beliau banyak berguru pada ulama-ulama besar dan mendalami ilmu thariqat dan beberapa aliran thariqat.

Beliau adalah seorang negarawan dan ahli dalam beberapa bidang ilmu seperti fikih, tasawuf, sejarah dan sastra. Dari ilmu yang beliau kuasai, ia telah menghasikan kurang lebih 29 karya atau kitab baik berbahasa Melayu atau Arab. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Tsani (1636-1641 M) beliau dipercaya untuk menduduki jabatan sebagai Qadi Malikul Adil,menggantikan Syeikh Syamsuddin as-Sumaterani.

Salah satu kitab karya Nuruddin ar-Raniry berjudul Bustanussalatin, kitab ini merupakan salah satu kitab yang fenomenal yang disusun pada abad ke 17 tepatnya pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) sampai pada masa Sultan Iskandar Tsani (1636-1641 M).

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.