Kisah Awal Mula Sebutan Aceh Serambi Mekkah

May 23, 2018 - 12:11
Masjid Tgk Dianjong, Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutraja, Kota Banda Aceh.
2 dari 3 halaman

Mereka itu adalah Sayyid Abdurrahman bin Mustafa Alaydrus, Sayyid Syeikh bin Muhammad Al-Jufri melanjutkan perjalanan ke Mesir, kemudian melanjutkan ke Malabar, India. Baru setelah itu Tgk Dianjong menetap di Aceh. Kisah perjalanan tiga ulama ini hingga sekarang masih diperbincangkan oleh para ulama di Yaman.

 

Sang Penyelamat Raja

Diriwayatkan bahwa Tgk Dianjong pernah menjadi sang penyelemat Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh Sultan Alauddin Mahmud Syah (1760-1781 masehi). Pada saat itu, kerajaan sedang mengalami kesulitan keuangan, hutang dengan kerajaan Inggris telah menumpuk.

Tentunya ini menjadi marwah kerajaan, merasa malu bila tidak mampu membayar hutan. Akhirnya raja pun mengumpul seluruh pembantunya dan membahas jalan keluar persoalan yang sedang melilitnya.

Yang membuat Sultan khawatir, bila semua harta kerajaaan, penambangan dan seluruh pajak dikumpulkan. Tetap saja tidak mencukupi neraca hutang kerajaan Aceh ke kerajaan Inggris. Hal inilah raja saat itu semakin gelisah, karena berkaitan dengan marwah dan kewibawaan Kerajaan Aceh Darussalam.

Berdasarkan naskah Adnan Abdullah dari Pusat Pengembangan Ilmu Sosial Unsyiah (1987) yang disampaikan oleh Bustami, Sultan Alauddin Mahmud Syah meminta pendapat pada majelis kerajaan. Majelis menyarankan kepada Sultan agar meminta bantuan kepada Tgk Dianjong.

Sultan pun mempersiapkan utusan untuk bertemu dengan Tgk Dianjong. Sultan mempersiapkan hidangan makanan untuk diberikan kepada Tgk Dianjong, sebagai bentuk memuliakan ulama Kasyaf kala itu.

Sampai di hadapan Tgk Dianjong, utusan itu langsung menyampaikan pesan dari Sultan, bahwa kerajaan sekarang sedang mengalami kesulitan hutang dengan kerajaan Inggris.

Setelah mendengar pesan dari Sultan. Tgk Dianjong kemudian menyerankan untuk membahas perkara ini dengan Teungku Syiah Kuala, mufti Kerajaan Aceh Darussalam. Namun, Teungku Syiah Kuala mengaku tidak mampu memenuhi permintaan sultan.

Teungku Syiah Kuala saat itu menyebutkan, hanya Tgk Dianjong yang bisa mencari jalan keluar atas persoalan ini. Utusan sultan pun kembali ke Tgk Dianjong dan menyampaikan pesan dari Teungku Syiah Kuala.

Tgk Dianjong akhirnya bersedia membantu. Lalu dia meminta disediakan beberapa goni lalu dimasukkan pasir dan diletakkan di pinggir Kreung Aceh (sekarang disebutkan dengan jembatan Pante Pirak).

Semua goni yang sudah terisi pasir diangkut ke pantai Cermin, sekarang lebih dikenal dengan Pantai Ulee Lheue, Banda Aceh. Sedangkan hidangan makanan tadi diminta dikembalikan kepada Sultan. Tgk Dianjong berpesan, hidangan yang dikembalikan dan pasir dalam goni tadi hanya boleh dibuka oleh sultan.

Ketika Sultan membuka hidangan makanan tadi, betapa kaget ternyata makanan tadi sudah berubah menjadi emas. Sedangkan pasir dalam goni tadi sudah berwujud perak.

Dengan bantuan Tgk Dianjonglah kemudian sultan bisa membayar hutan kepada kerajaan Inggris. Selamatlah sultan dari rasa malu dan Tgk Dianjong menjadi penyelamat sultan dari kewibawaan di mata kerajaan Inggris.

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.