“Tergantung besar dan kecilnya ukuran bambu buluh itu,” jelasnya.
Muhammad Yacup mengaku memasak leumang hanya pada bulan ramadan saja, ini karena ibunya sudah tua. Setiap hari selama ramadan ia bisa menghabiskan 3,5 sak beras atau 50 bambu beras, ubi 15 kilogram dengan keuntungan sangat menjanjikan.
“Modal yang harus dikeluarkan Rp 2,5 juta, pendapatannya bisa mencapai Rp 5,5 juta per hari,” jelasnya.
Di perapian, ada 160 batang bambu buluh yang masih sedang dimasak. Setelah nantinya matang, sebagian dipotong-potong ukuran kecil untuk dijajakan sebagai takjil berbuka puasa.
Selama bulan ramadan, banyak warga yang berburu berbagai makanan, salah satunya yang paling dimintati adalah leumang miliki Muhammad Yacup, yang memiliki cita rasa gurih dan cocok untuk dimakan dengan air tebu saat berbuka puasa.[acl]