Radikalisme Agama Tak Pandang Kondisi Ekonomi Hingga Gender

May 14, 2018 - 23:23
Kondisi rumah keluarga Dita masih dijaga aparat kepolisian bersenjata setelah olah TKP dan peledakan sebuah bom, Minggu (13/5). Tirto.id/Tony Firman.
3 dari 3 halaman

Libatkan Perempuan dan Anak

Pertanyaan selanjutnya, mengapa perempuan bahkan anak-anak bisa sampai dilibatkan sebagai pelaku bom bunuh diri?

Pelibatan perempuan dan anak-anak secara langsung dalam aksi terorisme ini merupakan ciri khas ISIS. Menurut Salahudin, dalam dua dekade ke belakang, kaum perempuan tidak pernah ada di garis depan pertempuran.

Dalam beberapa konflik agama yang terjadi di Indonesia misalnya, kata Solahudin, para kombatan Jamaah Islamiyah (JI) secara tegas melarang keterlibatan perempuan dalam pertempuran, kecuali memberi air kepada para pejuang dan mengobati yang terluka.

Dalam buku Al-Umdah yang dipakai para Kombatan JI di Indonesia sebagai pedoman, kata Solahudin, tertulis jelas bahwa perempuan tidak boleh bertarung bahkan dalam situasi di mana jihad menjadi kewajiban individu (fard 'ain) untuk semua Muslim, seperti ketika negara Muslim diserang.

Solahudin berkata, bagian-bagian yang relevan dari Al-Umdah disirkulasikan pada 2004-2005 di situs-situs radikal dan didistribusikan sebagai selebaran yang difotokopi dengan judul “Hukum Jihad untuk Perempuan.”

Menurut Solahudin, keterlibatan perempuan dalam garis depan pertempuran atau aksi bom bunuh diri biasanya didorong oleh penangkapan atau pembunuhan suami-suami mereka. Hal ini membuat para ekstremis perempuan lebih aktif dan menginginkan peran lebih untuk diri mereka sendiri.

Terlebih, kata Solahudin, media sosial saat ini sangat memungkinkan para ekstremis wanita untuk membahas lebih banyak peran yang bisa mereka lakukan dalam "peperangan" melalui jejaring media sosial seperti Facebook, Twitter, atau Telegram.

"Kalau mereka membicarakan ini di pertengahan tahun 2000-an, mungkin mendiskusikannya cuma di antara teman-teman. Tak ada yang tahu. Tapi sekarang, pembicaraan itu bisa berkembang ke ekstremis perempuan lainnya," tutur Solahudin.[acl/tirto.id]

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.