“Dia lupa bahwa [pemahaman] Islam itu bermacam-macam ragamnya dan mengalami proses sejarah yang panjang, proses politik, sosiologis dan sebagainya. Nah, kalau misalkan dia mengerti soal itu, mereka akan memiliki pilihan,” kata Robi.
Peneliti dari Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Solahudin, mengatakan proses radikalisasi agama berlangsung sangat cepat tanpa pandang status pendidikan, sosial bahkan ekonomi seseorang.
Penulis buku NII sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia ini berkata, saat ini pelaku terorisme bahkan sudah melibatkan posisi anak-anak dan perempuan dalam skala yang semakin besar.
Berdasarkan catatan Solahudin, dari 2016 hingga 2017 setidaknya terdapat 10 orang perempuan yang ditangkap karena terlibat dalam aksi terorisme. “Tiga di antaranya ditangkap karena merencanakan bom bunuh diri,” kata Solahudin.
Lantas, apa yang menyebabkan orang-orang itu menjadi ekstremis dan terlibat dalam aksi-aksi teror di Indonesia?
Jawabannya, kata Solahudin, dapat dirunut sampai awal terbentuknya sistem ISIS pada 2000-an. ISIS, kata dia, memberikan berbagai macam narasi tentang kenikmatan hidup di bawah naungan khilafah dan penerapan syariat Islam, serta memposisikan negara-negara barat sebagai musuh yang membuat umat Muslim tak dapat menjalankan kewajibannya dengan tenang.
Akan tetapi, narasi yang paling kuat, menurut Solahudin, adalah nubuat akhir zaman. Dalam beberapa riwayat Hadis, kata Solahudin, Suriah disebut sebagai tempat yang akan diberkati di akhir zaman. Di sana pula akan berdiri kekhilafahan terakhir disertai datangnya Imam Mahdi.
“Dengan narasi semacam itu, tak heran PNS hingga anak SMA bisa direkrut dengan mudah,” kata anggota Dewan Pembina Aliansi Damai Indonesia (AIDA), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang fokus mendampingi korban dan pelaku terorisme ini.
Solahudin memberikan contoh Triyono Utomo, pejabat di departemen keuangan yang mencoba pergi ke Suriah. Contoh lainnya adalah siswa SMA 4 Medan yang mencoba melakukan penyanderaan dan pengeboman sebuah gereja pada 2016.
Oleh sebab itu, kata Solahudin, tak mengherankan jika Dita dan keluarganya nekat melakukan bom bunuh diri di tiga gereja berbeda yang berada di Surabaya, Jawa Timur. Apalagi, lanjutnya, mereka juga dikabarkan pernah berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.