Radikalisme Agama Tak Pandang Kondisi Ekonomi Hingga Gender

May 14, 2018 - 23:23
Kondisi rumah keluarga Dita masih dijaga aparat kepolisian bersenjata setelah olah TKP dan peledakan sebuah bom, Minggu (13/5). Tirto.id/Tony Firman.
1 dari 3 halaman

HABADAILY.COM - Sulit mencerna fakta bahwa rentetan aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Minggu pagi (13/5/2018) dilakukan oleh pasangan suami-istri Dita Oeprianto dan Puji Kuswati beserta keempat anaknya. Apalagi, keluarga Dita disebut ramah kepada tetangga dan tidak tertutup dengan lingkungan sosial tempat tinggalnya.

Dita bekerja sebagai wiraswasta menjual produk herbal minyak kemiri. Dalam menjalankan usahanya itu, ia dibantu istrinya—yang pernah bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya. Keluarga mereka tinggal di komplek Wisma Indah, Kelurahan Wonorejo, Surabaya, perumahan yang jauh dari kesan kumuh dan padat.

Jika liburan tiba, mereka biasa pelesir ke beberapa tempat, salah satunya wisata di Kabupaten Banyuwangi: mulai dari Pantai Grajakan, Pantai Muncah, hingga Pulau Merah. Di rumah, pasangan suami-istri ini menyediakan internet dan komputer untuk anak-anaknya yang hobi bermain games.

Pendeknya, pengeboman atau aksi terorisme yang dilakukan keluarga besar Dita mematahkan asumsi umum yang selama ini berkembang: bahwa terorisme kerap disebabkan oleh faktor kemiskinan dan kurangnya pendidikan.

Berdasarkan keterangan polisi, Dita Oeprianto adalah pemimpin Jamaah Ansharut Daulah (JAD) wilayah Surabaya. Sejak November 2017, polisi menetapkan JAD sebagai kelompok teroris karena menjadi pendukung utama Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia.

Menanggapi hal itu, Direktur Indonesia Muslim Crisis Centre (IMCC) Robi Sugara melihat, ada tiga hal yang menyebabkan masyarakat terjerumus ke dalam paham ekstremisme dan menjadi pelaku teror.

Pertama, kata Robi, rendahnya kemampuan ekonomi dan akses terhadap pendidikan. Kedua, memahami ajaran agama secara tidak menyeluruh atau sepotong-sepotong. Dan ketiga, kata Robi, “ingin membuktikan dalil-dalil agama terutama yang berkaitan dengan akhir zaman dan negara khilafah akan berdiri sekali lagi.”

Narasi-narasi tersebut yang kerap melatarbelakangi seseorang terjerumus pada pemahaman agama yang ekstrem. Menurut Robbi, Dita dan keluarganya termasuk tipikal muslim yang pemahaman agamanya sangat parsial dan utopis dalam meyakini kebangkitan negara Islam dalam naungan Khilafah Islamiyyah.

“Dan narasi yang sering disampaikan kepada mereka, biasanya itu bahwa Islam itu dizalimi internasional, dipojokkan, dan sebagainya,” kata Robi kepada Tirto, Senin (14/5/2018).

Karena itu, kata Robi, kekuatan finansial yang mereka miliki justru digunakan untuk mendukung aksi-aksi terorisme atau membiayai diri mereka untuk terlibat langsung dalam perjuangan pendirian khilafah. Padahal, cara-cara mewujudkan negara khilafah, seperti yang dilakukan ISIS, selalu menggunakan kekerasan dan menambah penderitaan.

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.