DATA BMKG 15 September 2019

Ulah ‘Wartawan Kaleng-kaleng’ Resahkan Para Kepsek di Bireuen

Ulah ‘Wartawan Kaleng-kaleng’ Resahkan Para Kepsek di Bireuen

Mamad MY (paling depan), Wartawan MetroTV di Bireuen.

HABADAILY.COM—Hampir semua kepala sekolah di Kabupaten Bireuen mengaku resah dengan kehadiran sejumlah orang yang mengaku wartawan ke sekolahnya. Selain kerap meminta “amplop” dengan berbagai dalih, orang-orang tersebut juga terkadang minta memeriksa laporan pertanggungjawaban dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

“Mereka yang dating ke sekolah kami itu mengaku dirinya wartawan yang bertugas di Kabupaten Bireuen,” sebut Kepala SD Negeri di Kecamatan Jangka, Kamis (5/9/2019).

Kepsek yang enggan dipublikasi identitasnya ini mengaku sering didatangi orang-orang yang mengaku wartawan. Menurutnya, mereka bertandang ke untuk minta bantuan dengan dalih yang terkesan dibuat-buat.

"Ada yang minta dipasang papan bunga untuk HUT media tempatnya bekerja. Ada pula yang minta dipasang papan bunga dukacita atas meninggalnya rekan mereka," sebut kepala SD ini.

Dia menambahkan, rekan-rekan seprofesinya juga sering mengeluhkan hal serupa. “Hampir semua sekolah di Bireuen didatangi oleh orang-orang yang mengaku wartawan itu. Hal ini sering kami bahas dalam berbagai pertemuan para kepala sekolah di Kabupaten Bireuen,” ungkapnya.

Dikatakannya, sejumlah Kepsek bahkan mengaku ditakut-takuti oleh orang-orang tersebut. “Ada yang langsung menuding telah terjadi dugaan penyimpangan dana BOS pada Kepsek. Ada juga yang minta memeriksa laporan pertanggungjawaban dana BOS.”

“Penyidik saja, membawa surat resmi kalo mau memeriksa laporan keuangan. Kok mereka berani-beraninya main periksa-periksa laporan segala?” sambungnya, mempertanyakan.

Senada disampaikan seorang kepala sekolah swasta di Bireuen. Dia juga mengaku sering didatangi oleh orang-orang yang melabeli dirinya wartawan liputan Bireuen. Alasannya tidak jauh beda dengan yang datang menemui kepala sekolah lainnya.

"Ke saya mereka ngaku dari Metro. Tidak saya layani, karena tidak ada budaya itu di tempat kami. Tapi mereka marah, dibilang tidak bermitra. Repot juga hadapi wartawan macam itu. Apa Metro ada kantor perwakilannya di sini?" tanya kepsek yang juga minta identitasnya tidak dituliskan.

Dia berharap, ada pembinaan dari pengurus organisasi pers seperti PWI terhadap wartawan yang melakukan peliputan ke sekolah-sekolah. Namun setelah mendapat penjelasan dari media ini bahwa tidak semua wartawan tergabung dalam organisasi pers, akhirnya kepala sekolah itu bisa mengambil kesimpulan tersendiri dengan maraknya berkeliaran “wartawan kaleng-kaleng”.

Sementara itu, Wartawan Metro TV di Bireuen, Mamad MY yang dikonfirmasi media ini terkait kehadiran orang yang mengaku dari Metro ke sejumlah sekolah memastikan wartawan itu bukan dari Metro TV. "Di sini hanya saya yang ditugaskan," kata Mamad MY yang tergabung dalam organisasi PWI Bireuen.

Mamad MY juga mengaku sudah lama mendengar ada wartawan yang menyebut dari Metro untuk mengesankan seolah-olah mereka dari Metro TV. "Sebelumnya juga ada yang menanyakan ke saya. Sudah saya jelaskan wartawan Metro TV tidak ada yang minta-minta ke kepala sekolah. Kalau ada yang terganggu atau dirugikan dengan orang yang mengatasnama Metro TV, lapor saja ke pihak berwajib," harap Mamad MY.

Pernyataan yang sama disampaikan Pemimpin Redaksi Tabloid Metropolis dan Metropolis.id, Ariadi B Jangka. Menurut dia, sejauh ini belum menempatkan satu wartawan pun di Kabupaten Bireuen. “Untuk liputan Bireuen, Tabloid Metropolis dan Metropolis.id masih memanfaatkan wartawan yang bekerja di media sindikasi yang saya kelola,” sebutnya.

“Jadi tidak ada wartawan Metropolis di Bireuen,” sambung Ariadi B Jangka yang juga Pemimpin Redaksi Rimbaraya.id dan Habadaily.com.

Ariadi menegaskan, ia melarang keras para wartawannya meminta imbalan apapun dari narasumber. “Semua media yang saya pimpim memberikan saleri bulanan bagi wartawan di atas UMP. Jadi tidak ada alasan bagi mereka meminta-minta pada narasumber,” tegas pria yang sekarang mengelola Habadaily.com, Tabloid HD Indonesia, Rimbaraya.id, Metropolis.id, dan Tabloid Metropolis.[]

Komentar
Baca Juga
Terbaru