Rendah Kesadaran Berikan Imunisasi, Difteri Meningkat di Aceh

Redaksi - habadaily
25 Jul 2018, 17:26 WIB
Rendah Kesadaran Berikan Imunisasi, Difteri Meningkat di Aceh imunisasi difteri. ©2017 merdeka.com/arie basuki

HABADAILY.COM – Rendahnya kesadaran masyarakat memberikan imunisasi lengkap kepada anak mengakibatkan meningkatnya kasus penderita difteri di Aceh dari tahun ke tahun.

Kondisi ini dan sudah ditetapkan secara nasional menjadi Kejadian Luas Biasa (KLB). Bahkan periode Juni tahun 2018 ini penderita difteri di Aceh lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh, penderita difteri di Aceh tertinggi selama 7 tahun terakhir sejak 2012 lalu. Semester satu tahun 2018 ini saja telah ditemukan 143 kasus, namun belum ada pasien yang meninggal dunia.

Bila dibandingkan tahun 2017 lalu, penderita kasus difteri sepanjang tahun sebanyak 113 penderita dan 5 orang meninggal dunia. Berdasarkan data tersebut tampak jelas baru semester satu tahun 2018 naik cukup signifikan.

Aceh termasuk peringkat ketiga tertinggi penderita difteri pada tahun 2017 lalu di Indonesia. Peringkat pertama berada di Jawa Timur dan ketiga berada di Jawa Barat.

Selama kurun waktu 7 tahun terakhir, hanya tahun 2015 kasus difteri nol di Serambi Mekkah. Pada tahun 2012 ditemukan 5 kasus dan satu meninggal dunia. Pada tahun 2013 ditemukan 6 kasus dua orang meninggal dunia, tahun 2014 ditemukan 5 kasus satu orang meninggal.

“Cukup tinggi, kita peringkat ketiga di Indonesia tahun 2017 lalu penderita difteri,” kata Kepala Bidang Penanganan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Aceh, dr Abdul Fatah, Rabu (25/7/2018) di Banda Aceh.

Ada 13 kabupaten yang ada terjangkit difteri tahun 2017 lalu, yaitu yang paling tinggi berada di Kabupaten Aceh Timur sebanyak 18 kasus, satu orang meninggal dunia. Lalu disusul Kabupaten Pidie Jaya dan Kota Banda Aceh sebanyak 17 kasus, satu meninggal dunia di Pidie Jaya.

Lalu daerah tertinggi lainnya berada di Aceh Utara dan Bireuen sebanyak 13 kasus masing-masing satu orang meninggal dunia. Selanjutnya Kabupaten Pidie 12 kasus, Aceh Besar 9 kasus, Lhokseumawe 5 kasus, seorang meninggal dunia, Aceh Barat 4 kasus.

Sedangkan kabupaten lainnya Kota Sabang hanya 2 kasus, Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Tamiang dan Aceh Singkil hanya satu kasus selama tahun 2017.

Mirisnya pada tahun 2018 jumlah daerah yang terjangkit difteri pada semester pertama bertambah menjadi 18 kabupaten/kota. Kota Banda Aceh yang berada di pusat ibu kota Provinsi Aceh dan Kabupaten Besar yang bertetanggaan merupakan daerah tertinggi terjangkit difteri. Hingga Juni 2018 sudah ditemukan 24 kasus difteri.

Sedangkan Kabupaten Pidie ditemukan 20 kasus, disusul Aceh Utara 16 kasus dan Aceh Jaya, Bireuen dan Aceh Barat 7 kasus. Setelah itu Aceh Tengah dan Lhokseumawe 6  kasus, Aceh Timur 5 kasus, Sabang, Nagan Raya dan Pidie Jaya 4 kasus.

Sedangkan yang paling rendah terjangkit difteri dari 18 daerah yang terjangkit dari 23 kabupaten/kota berada di Kabupaten Aceh Tamiang 3 kasus, Kota Langsa dan Bener Meriah 2 kasus dan Aceh Singkil dan Kota Subussalam 1 kasus.

“Alhamdulillah tahun 2018 belum ada yang meninggal dunia,” jelasnya.

Bila ditinjau dari kelompok umur. Berdasarkan data dari Dinkes Aceh pada tahun 2018 ini sebanyak 40 persen usia di atas 14 tahun. Sedangkan 29 persen usia 5-9 tahun, 25 persen 10-14 tahun, 5 persen 1-4 tahun dan hanya 1 persen usia 1 tahun.

Menurut dr Abdul Fatah, siapapun berpotensi terjangkit difteri, karena dalam tubuh manusia memang sudah memiliki embreo itu. Namun yang membuat bisa bertahan dan terhindar dari penyakit berbahaya itu adalah dengan cara melakukan imunisasi yang lengkap sejak kecil.

“Siapapun bisa terjangkit, tidak mengenal usia, siapapun yang tidak memberikan imunisasi pada anak, tetap rentan,” ungkapnya.

Data dari Dinkes Aceh pada tahun 2017 lalu menunjukkan, sebanyak 94 persen yang menderita difteri tidak pernah mendapatkan imunisasi apapun pada anak. Sisanya 5 persen hanya pernah mendapatkan imunisasi sebanyak 3 kali dan 1 persen pernah imunisasi 1 kali.

“Jadi imunisasi itu harus lengkap dan terus dilakukan secara periodik sesuai arahan pihak terkait, ini untuk menjamin ketahanan tubuh anak terjamin,” tukasnya.

Kata dr Abdul Fatah, pada tahun 2018 ini kasus difteri yang terjadi di Aceh masih disebabkan minimnya kesadaran masyarakat memberikan imunisasi lengkap pada anak. Bahkan berdasarkan data terbaru, 77 persen yang terjangkit difteri karena tidak ada imunisasi.

“Sisanya ada 21 persen  hanya 3 kali imunisasi, 1 persen 2 kali dan 1 persen 1 kali,” tukasnya.

Adapun alasan orang tua tidak mau memberikan imunisasi kepada anaknya karena takut anaknya demam setelah diberikan imunisasi. Kata dr Abdul Fatah, alasan ini ditemukan sebanyak 28,8 persen. Selain itu 26,3 persen pihak keluarga yang tidak memberikan izin. Alasan lainnya karena lokasi imunisasi yang tidak terjangkau sebanyak 21,9 persen.

Alasan lainnya sebanyak 16,3 persen menjawab karena orang tua terlalu sibuk, sehingga tidak sempat memberikan imunisasi kepada anak. Biasanya, sebut dr Abdul Fatah, alasan sibuk hingga tidak memberikan imunisasi penduduk yang berada di perkotaan.

“Biasanya ini terjadi di perkotaan karena kedua orang tua bekerja. Sisanya ada 6,8 persen alasan sakit dan 6,7 persen tidak tahun tempat imunisasi,” jelasnya. [acl]

Loading...