Di Balik Hening Desa Malaka, Arueng Jeuram Tawarkan Pesona Alami yang Memikat
Filosofi "Orang Berakal" di Balik Nama Malaka
Memahami Gampong Malaka tidak lengkap tanpa menelusuri akar sejarahnya. Nama "Malaka" berasal dari bahasa Kluet, Merake, yang secara harfiah berarti "Berakal". Penamaan ini mencerminkan kecerdasan masyarakatnya dalam menghadapi tantangan hidup.
Duta Pariwisata Aceh Selatan 2025, Warisatul Ambia, menjabarkan bahwa ada dua legenda besar yang melatari penamaan ini:
- Strategi Pengusir Tawon: Saat membuka lahan, para pelopor menghadapi serangan tawon raksasa. Alih-alih merusak ekosistem, mereka menggunakan akal dengan membuat obor dari daun enau untuk mengusir tawon secara aman.
- Diplomasi Hukum Adat: Dahulu, seorang warga terancam hukuman mati oleh Raja Menggamat. Melalui musyawarah yang cerdas, perangkat desa berhasil menemukan celah hukum yang adil tanpa harus menghilangkan nyawa—sebuah tindakan diplomasi yang kemudian diakui oleh sang Raja.
"Kini, filosofi 'Berakal' bertransformasi menjadi semangat inovasi. Masyarakat menyadari bahwa mereka harus menggunakan akal untuk mengelola potensi alam menjadi komoditas ekonomi tanpa merusak warisan leluhur," ungkap Warisatul.
Sinergi Duta Wisata dan Penerapan Sapta Pesona
Kehadiran pasangan Duta Wisata Aceh Selatan 2025, Warisatul Ambia dan Ratu Qaneeta Nasywa, menjadi bukti nyata kepedulian kaum muda terhadap kemajuan pesona arung jeram Gampong Malaka.
Warisatul menekankan pentingnya implementasi Sapta Pesona dalam mengelola kawasan ini, yang mencakup unsur keamanan, ketertiban, kebersihan, kesejukan, keindahan, ramah tamah, dan kenangan.
"Bersama Ikatan Alumni Duta Wisata Aceh Selatan, edukasi terus kami berikan kepada pemuda desa agar mampu melayani tamu dengan standar profesional, namun tetap menjaga jati diri masyarakat Kluet yang religius dan santun," kata Warisatul kepada Habadaily.com, Senin (20/04/2026).

Kebangkitan Ekonomi dan Ikon "Batu Gajah"
Pengembangan arung jeram di Malaka adalah strategi terukur untuk memperbaiki tatanan ekonomi masyarakat. Hal ini selaras dengan visi Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan dalam mendorong sektor pariwisata sebagai motor penggerak lapangan kerja dan perbaikan infrastruktur desa.