Di Balik Hening Desa Malaka, Arueng Jeuram Tawarkan Pesona Alami yang Memikat

April 20, 2026 - 23:08
Di Balik Hening Desa Malaka, Arueng Jeuram Tawarkan Pesona Alami yang Memikat. (FOTO: HO I Duta Pariwisata Aceh Selatan 2025).

HABADAILY.COM - Di pemukiman Gampong Malaka, Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, kesunyian bukanlah sekadar ketiadaan suara. Ia adalah lapisan pelindung bagi rahasia alam yang megah, di mana waktu seolah melambat di bawah naungan rimbunnya hutan tropis.

Di balik ketenangan desa ini, terhampar aliran Sungai Kluet yang luas, deras, dan jernih. Nadi kehidupan ini kini bertransformasi menjadi destinasi wisata petualangan.

Melalui inisiatif kolektif masyarakat dan pemerintah setempat, sungai tersebut dikembangkan sebagai pusat olahraga ekstrem yang dikenal oleh warga lokal sebagai Arueng Jeuram (Arung Jeram).

Nadi Kehidupan di Rimba Tengah
Geografi Gampong Malaka yang tersembunyi memberikan keuntungan ganda: privasi alam yang murni sekaligus tantangan hidrologi yang luar biasa. Sungai Kluet memiliki identitas unik dibanding jalur arung jeram lainnya di Aceh. Alirannya memiliki stabilitas tinggi, namun tetap menyimpan variasi jeram yang mampu mengejutkan atlet berpengalaman sekalipun.

Di Balik Hening Desa Malaka, Arueng Jeuram Tawarkan Pesona Alami yang Memikat. (FOTO: HO I Duta Pariwisata Aceh Selatan 2025).

Para penggiat arus deras sering menyamakan sensasi di sini dengan arena internasional. Formasi geologi dasar sungai yang berliku dan dekorasi bebatuan alami menciptakan tantangan teknis, mulai dari tingkat kesulitan rendah hingga ekstrem.

Kejernihan airnya menjadi indikator utama kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Di bagian dangkal, pengunjung dapat melihat detail bebatuan dasar secara kasatmata.

Sementara di bagian dalam, warna biru kehijauan mendominasi, memantulkan keasrian hutan yang berfungsi sebagai paru-paru sekaligus benteng alami penyejuk suhu udara.

Filosofi "Orang Berakal" di Balik Nama Malaka
Memahami Gampong Malaka tidak lengkap tanpa menelusuri akar sejarahnya. Nama "Malaka" berasal dari bahasa Kluet, Merake, yang secara harfiah berarti "Berakal". Penamaan ini mencerminkan kecerdasan masyarakatnya dalam menghadapi tantangan hidup.

Duta Pariwisata Aceh Selatan 2025, Warisatul Ambia, menjabarkan bahwa ada dua legenda besar yang melatari penamaan ini:

  • Strategi Pengusir Tawon: Saat membuka lahan, para pelopor menghadapi serangan tawon raksasa. Alih-alih merusak ekosistem, mereka menggunakan akal dengan membuat obor dari daun enau untuk mengusir tawon secara aman.
  • Diplomasi Hukum Adat: Dahulu, seorang warga terancam hukuman mati oleh Raja Menggamat. Melalui musyawarah yang cerdas, perangkat desa berhasil menemukan celah hukum yang adil tanpa harus menghilangkan nyawa—sebuah tindakan diplomasi yang kemudian diakui oleh sang Raja.

"Kini, filosofi 'Berakal' bertransformasi menjadi semangat inovasi. Masyarakat menyadari bahwa mereka harus menggunakan akal untuk mengelola potensi alam menjadi komoditas ekonomi tanpa merusak warisan leluhur," ungkap Warisatul.

Sinergi Duta Wisata dan Penerapan Sapta Pesona
Kehadiran pasangan Duta Wisata Aceh Selatan 2025, Warisatul Ambia dan Ratu Qaneeta Nasywa, menjadi bukti nyata kepedulian kaum muda terhadap kemajuan pesona arung jeram Gampong Malaka.

Warisatul menekankan pentingnya implementasi Sapta Pesona dalam mengelola kawasan ini, yang mencakup unsur keamanan, ketertiban, kebersihan, kesejukan, keindahan, ramah tamah, dan kenangan.

"Bersama Ikatan Alumni Duta Wisata Aceh Selatan, edukasi terus kami berikan kepada pemuda desa agar mampu melayani tamu dengan standar profesional, namun tetap menjaga jati diri masyarakat Kluet yang religius dan santun," kata Warisatul kepada Habadaily.com, Senin (20/04/2026).

Duta Wisata Aceh Selatan 2025, Warisatul Ambia. (FOTO: HO I Duta Pariwisata Aceh Selatan 2025).

Kebangkitan Ekonomi dan Ikon "Batu Gajah"
Pengembangan arung jeram di Malaka adalah strategi terukur untuk memperbaiki tatanan ekonomi masyarakat. Hal ini selaras dengan visi Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan dalam mendorong sektor pariwisata sebagai motor penggerak lapangan kerja dan perbaikan infrastruktur desa.

Salah satu daya tarik unggulannya adalah Batu Gajah, sebuah formasi batu raksasa di tengah sungai yang telah diresmikan sebagai objek wisata pada awal 2025. Batu ini bukan sekadar bongkahan mineral, melainkan ikon visual yang memperkuat narasi eksotis Gampong Malaka.

Mitigasi dan Keselamatan Perairan
Meski memikat, Sungai Kluet tetaplah ekosistem liar. Oleh karena itu, standar keselamatan menjadi prioritas mutlak.

"Menariknya, pemuda Malaka yang berlatih sebagai atlet arung jeram kini juga berperan sebagai tim reaksi cepat bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk operasi penyelamatan, jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat di aliran sungai," tambah Warisatul.

Sintesis Budaya dan Masa Depan
Gampong Malaka berdiri di persimpangan harmonis antara tradisi dan modernitas. Dengan kekayaan budaya lokal seperti tradisi Mebobo, desa ini berpotensi besar menjadi pusat ekowisata terpadu yang menyatukan sensasi olahraga ekstrem dengan perayaan festival lokal.

Melalui arung jeram, Malaka membuktikan bahwa desa pedalaman yang hening bisa bangkit menjadi tumpuan ekonomi. Dengan kekuatan akal (Merake), mereka siap mengarungi tantangan zaman menuju masa depan yang sejahtera, sembari terus menjaga kejernihan sungai dan keasrian hutan bagi generasi yang akan datang.

Editor: Suryadi

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.