“Akses adalah kebutuhan paling mendesak dalam situasi tanggap darurat. Tanpa akses, pemenuhan hak dasar masyarakat akan terhambat dan proses pemulihan ekonomi menjadi sangat sulit,” ungkap Ruwaida saat kegiatan distribusi bantuan, 24 Februari 2026.
Kondisi tersebut dibenarkan oleh Nur Cahayawati, Koordinator Relawan Posko Gajah Putih. Ia menjelaskan bahwa sejak bencana terjadi, warga berupaya bertahan secara mandiri.
“Kami bergotong royong membersihkan material longsor dan memperbaiki jembatan secara swadaya agar bisa dilalui sepeda motor. Kami tidak sanggup menunggu bantuan yang tidak kunjung tiba. Kami ingin keluar dari isolasi,” ujarnya.
Desa Gayo Setie dihuni oleh 104 KK (405 jiwa) yang mayoritas menggantungkan hidup dari hasil kopi, cabai, dan tanaman hortikultura. Longsor yang terjadi telah menghancurkan sebagian besar kebun warga sehingga sumber penghidupan mereka terhenti.
Dalam situasi ini, kepala keluarga perempuan menghadapi kerentanan berlapis karena harus menopang kebutuhan keluarga dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas.
YPANBA bersama Koalisi NGO HAM menyerukan kepada pemerintah untuk segera membuka akses infrastruktur menuju Desa Gayo Setie.