Mereka yang belum mendapat giliran menempati Huntara tidak lantas berpangku tangan. Dengan tatapan kosong namun tangan yang terus bergerak, warga mulai mengumpulkan serpihan kayu dan sisa bangunan yang hancur.
Sebelumnya, mereka mengumpul puing puing kayu kecil untuk mencoba mendirikan gubuk-gubuk kecil sekadar untuk berteduh dari terik matahari dan dinginnya malam.
"Semoga dengan bantuan rumah sementara ini mereka bisa nyaman," harapnya.

Di antara reruntuhan Desa Babo, mereka yang tersisa kini hanya bisa memeluk doa dan kepasrahan, berharap tangan-tangan baik lainnya segera datang, agar tak ada lagi bayi yang harus jatuh sakit dalam pengapnya tenda darurat.
Penulis: Taufik Kelana
Editor: Suryadi