Di Aceh Tamiang: 42 Hari Menanti Harapan dalam Pelukan Gubuk Reot

January 10, 2026 - 00:30
Di Aceh Tamiang: 42 Hari Menanti Harapan dalam Pelukan Gubuk Reot. (FOTO: HO I HABADAILY.COM)

HABADAILY.COM - Empat puluh dua hari adalah waktu yang cukup lama untuk menguji batas kesabaran manusia. Bagi warga Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, setiap malam yang mereka lewati sejak banjir bandang 26 November 2025 lalu adalah rangkaian kecemasan di bawah atap terpal yang bocor dan dinding gubuk yang mulai melapuk.

Namun, mendung duka itu perlahan tersingkap. Isak tangis yang biasanya pecah karena kesedihan. Kini, pada 10 Januari 2026, berganti menjadi tangis haru. Harapan itu akhirnya mewujud dalam bentuk Hunian Sementara (Huntara).

Langkah kaki para relawan yang datang menjemput penyintas menjadi pemandangan paling indah di awal tahun ini. Dengan penuh kehati-hatian, petugas memprioritaskan mereka yang paling rapuh.

Para lansia yang tulang-tulangnya mulai linu dimakan lembap, serta bayi-bayi mungil yang harus berjuang melawan sakit di tengah sanitasi yang buruk.

Tujuh kepala keluarga terpilih menjadi penghuni pertama "istana sederhana" ini. Meski dindingnya tak semegah rumah permanen, Huntara ini menawarkan satu hal yang sudah lama hilang dari hidup mereka.

Seorang warga Buk Tika, mengaku, Meski dengan fasilitas yang sederhana, setidaknya dilokasi Huntara ini, penyintas banjir yang menjadi prioritas penghuni pertama, merasakan perhatian dan pemulihan terhadap kondisi kesehatan dan sikologis mereka.

Terlebih, penerima pertama ini merupakan lansia dengan kondisi kesehatan yg kurang baik serta bayi yang menderita penyakit dari keluarga tidak mampu.

Di Aceh Tamiang: 42 Hari Menanti Harapan dalam Pelukan Gubuk Reot. (FOTO: HO I HABADAILY.COM)

Hal yang sama diakui, Lela, wajahnya terlihat guratan kelelahan, namun matanya berbinar saat memandangi bangunan Huntara yang akan ditempatinya.

Selama 42 hari, Lela dan buah hatinya bertahan di sebuah gubuk kecil tanpa pernah merasakan perlindungan tenda bantuan.

"Senang sekali, rasanya seperti mimpi. Akhirnya anak saya tidak lagi tidur di gubuk yang terbuka," ucap Lela dengan suara bergetar, sambil memeluk erat anaknya di depan hunian baru mereka.

Kepala Desa Babo, Khairi Ramadhan, menuturkan betapa pilunya melihat kondisi warganya. Dengan 90 persen rumah yang hancur dan tak lagi layak huni, Desa Babo kini tampak seperti hamparan puing.

"Hati saya perih melihat ibu-ibu dan bayi harus kedinginan. Maka dari itu, Huntara ini kami khususkan bagi mereka yang paling membutuhkan perlindungan fisik dan pemulihan jiwa," ungkap Khairi dengan nada berat.

Mereka yang belum mendapat giliran menempati Huntara tidak lantas berpangku tangan. Dengan tatapan kosong namun tangan yang terus bergerak, warga mulai mengumpulkan serpihan kayu dan sisa bangunan yang hancur.

Sebelumnya, mereka mengumpul puing puing kayu kecil untuk mencoba mendirikan gubuk-gubuk kecil sekadar untuk berteduh dari terik matahari dan dinginnya malam.

"Semoga dengan bantuan rumah sementara ini mereka bisa nyaman," harapnya.

Di Aceh Tamiang: 42 Hari Menanti Harapan dalam Pelukan Gubuk Reot. (FOTO: HO I HABADAILY.COM)

Di antara reruntuhan Desa Babo, mereka yang tersisa kini hanya bisa memeluk doa dan kepasrahan, berharap tangan-tangan baik lainnya segera datang, agar tak ada lagi bayi yang harus jatuh sakit dalam pengapnya tenda darurat.

Penulis: Taufik Kelana
Editor: Suryadi

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.