Meski begitu, lanjut dia, dirinya tidak boleh pasrah dengan kondisi kesehatannya. Mau tidak mau Nurdin harus memiliki penghasilan yang bisa membuat dapur keluarganya tetap mengepul setiap hari. “Alhamdulillah, dengan berjualan ranup mameh, saya bisa mencukupi kebutuhan makan sehari-hari keluarga,” ungkapnya.
Menurutnya, terkadang dia bisa berpenghasilan sampai Rp100 ribu lebih. “Ini kalau pembeli ranup mameh lagi ramai. Pelanggan saya kebanyakan mereka yang makan minum di Warung Sudi Mampir Matangglumpangdua. Hanya satu-dua pengguna mobil pribadi yang memang singgah sebentar untuk membili ranup mameh,” paparnya.
Selama Ramadhan, kata Nurdin, dirinya berjualan hanya 3-4 jam dalam semalam. “Kalau hari biasa, saya mulai jualan bakda maghrib sampai dini hari. Hasil jualan bisa mencapai Rp200 ribu dari modal Rp70 ribu,” paparnya.
Pantauan media ini, empat biji ranup mameh (kemasan ranup yang berisi kapur dan pinang manis) dijual dengan harga Rp2 ribu. Sedangkan satu bungkus plastik yang berisi 10 biji ranup mameh dijual Rp5 ribu. “Beginilah kami rakyat kecil mencari nafkah, hanya untuk bisa makan sehari-hari,” pungkas Nurdin Hasan.[]