Sistem cerdas sirkulasi udara ini berfungsi adalah untuk mengurangi kemungkinan tertularnya paramedis virus dari penyakit menular tersebut semaksimal mungkin. Pada saat dokter akan melakukan visit ke ruangan isolasi, maka sistem cerdas ini akan melakukan proses tertentu sirkulasi udara tertentu untuk membersihkan udara didalam ruang isolasi dari virus dan yang memberi lampu hijau jika ruang ruang boleh dimasuki oleh dokter.
"Dokter pun diharapkan tidak perlu menggunakan Alat Pelindung Diri yang sangat kompleks, cukup masker saja. Dengan adanya sirkulasi udara yang baik dalam ruangan isolasi, maka resiko penularan penyakit pun diharapkan akan minim," bebernya.
Maka dengan sistem sirkulasi udara seperti itu dapat memberikan rasa aman dan nyaman, baik bagi pasien maupun dokter. Sebab jika dokter masih menggunakan APD yang komplek, pasien akan merasa tidak nyaman.
Sementara itu, Prof Samsul Rizal mengatakan, akhir dari penelitian ini maka para peneliti USK mencoba menawarkan sebuah standar yang dapat dilakukan secara nasional untuk menjadi acuan dapat membangun ruang isolasi untuk perawatan pasien dengan penyakit menular melalui media udara.
Sistem cerdas dalam penelitian ini memerlukan berbagai perangkat lunak dan perangkat keras yang berfungsi sebagai pengumpul data dan mengendalikan sistem sirkulasi udara. Selain itu, untuk mengamati pola aliran udara di dalam ruang isolasi secara visual maka diperlukan sebuah kamera kecepatan tinggi yang mampu merekam aliran udara yang sangat cepat. Peralatan tersebut diadakan dari luar negeri melalui kegiatan importasi.
Dalam kegiatan importasi ini, USK berterima kasih sebesar-besarnya kepada Direktorat Jendral Bea dan Cukai melalu Kantor Pelayanan Utama Tipe C Soekarno Hatta untuk dukungan dalam Pembebasan Bea Masuk dan Cukai atas Impor Barang untuk Keperluan Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan melalui PMK 200 tahun 2019 dengan nilai total pembebasan sekitar Rp550 Juta.