Perdamaian Aceh pasca-bencana, kata Nova, adalah prestasi yang diakui dunia. Hal itu dikarenakan damai Aceh yang telah berlangsung selama hampir 15 tahun, ketika Bank Dunia dalam studinya menyebutkan banyak daerah bekas konflik akan kembali ke masa konflik (relapse) setelah perdamaian. “Proses pembangunan pun semakin membaik. Cerita sukses itu mendapatkan apresiasi dari dunia. Banyak yang kemudian belajar merawat perdamaian serta rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh,” ungkapnya.
Nova menyebutkan, dukungan yang diperlukan Aceh saat bukan lagi berbentuk dukungan kemanusiaan, namun lebih pada investasi. Pemerintah Aceh telah membuat kebijakan dan insentif bagi investor dapat menanamkan modal mereka di Aceh. Ada beberapa kawasan yang diperuntukkan agar investasi dapat hadir di Aceh dengan basis saling menguntungkan seperti Kawasan Ekonomi Khusus Arun Lhokseumawe, Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang, Kawasan Industri Ladong dan Lampulo.
"Aceh juga terletak pada posisi strategis dalam geoekonomi, geostrategic dan geopolitk global," kata Nova.
Ia mengatakan makin berkembangnya pembangunan di negara-negara Samudera Hindia melalui inisiatif seperti Indian Ocean Rim Association dan Indo-Pacific Partnership, telah menempatkan Aceh sebagai lokasi yang sentral dalam meningkatkan iniasiatif global tersebut.