Lah Sath, pria Cham berusia 72 tahun dari provinsi Kampong Cham timur, membawa istri dan empat cucunya ke ruang sidang. Selama ini dia sering mendengar pembahasan tentang persidangan Khmer Merah dari orang lain. Tak jarang, Lah Sath menonton persidangan melalui televisi. Namun, pada akhirnya Lah memutuskan untuk mengikuti persidangan secara langsung.
Lah Sath mengakui, berbicara tentang Khmer Merah sama dengan mengembalikan kenangan buruk bagaimana rakyat hidup di bawah kekuasaan mereka. Warga Cham diperlakukan sebagai musuh dan dieksploitasi tanpa belas kasihan. Lah ingat betul bagaimana mereka dipaksa untuk bertani secara intensif.
Lah menyebutkan adik laki-lakinya menjadi salah satu korban kejahatan Khmer Merah. Dia dibunuh hanya karena gagal merawat sapi.
Pengadilan juga telah melakukan satu penuntutan lain dengan terdakwa Kaing Guek Eav. Sebagai kepala penjara Khmer Merah yang dikenal dengan sebutan Duch, Kaing pada 2010 telah melakukan penyiksaan di Tuol Sleng. Lokasi ini merupakan penjara penyiksaan yang sangat terkenal di ibukota Phnom Penh.
Namun, Perdana Menteri Hun Sen membatasi izin tindak lanjut terkait kasus ini. Dia khawatir terungkapnya kekejaman yang dilakukan Khmer Merah terhadap rakyat Cham akan mengganggu kestabilan negara.
Hun Sen adalah seorang komandan Khmer Merah yang membelot ketika kelompok itu berkuasa. Dia kemudian kembali ke dalam sistem pemerintahan setelah Khmer Merah berhasil digulingkan oleh invasi Vietnam.
'Keadilan selektif'