Oleh karena itu, masyarakat butuh penyaring ketika menerima informasi, dan kondisi itu belum sepenuhnya terjadi dalam masyarakat kita, sehingga berbagai reaksi negatif muncul karena provokasi media sosial. Menurut Muslahuddin, kelompok yang paling mungkin memiliki penyaring adalah intelektual dan mahasiswa, karena itu ia menghimbau
“Kalangan intelektual harus mengedepankan logika yang berdasarkan pada pengetahuan dan rujukan pada informasi yang diterimanya,” ujarnya.
Ia menambahkan, mahasiswa harus meningkatkan peran partisipasi mereka sebagai masyarakat sipil, karena partisipasi masyarakat sipil akan mendorong akuntabilitas dalam penyelenggaraan negara.
“Negara tidak akan mampu melakukan pembangunan jika hanya mengandalkan pemerintahsaja, tanpa melibatkan swasta dan masyarakat sipil. Kondisi inilah yang membuat kita strategis karena berkontribusi mendorong percepatan pembangunan di Indonesia,” pungkasnya. [jp/ril]