Terbuang oleh Perang, Dipisahkan El Clasico, Disatukan oleh Timnas

July 15, 2018 - 19:05
Luka Modric (Kiri) dan Ivan Rakitic (Kanan), dua pemain tengah timnas Kroasia. AP PHOTO/Rebecca Blackwell/tirto.id
3 dari 3 halaman

Berbicara soal bom, pada 2017 lalu ketika Barcelona mendapat serangan teroris, Rakitic dan keluarganya yang kala itu hendak pergi ke pusat kota, nyaris saja tertimpa musibah jika Raquel tidak meminta sang suami mengubah tujuan. Dilansir Marca, Rakitic sempat mengungkapkan hal tersebut.

"Saya sangat dekat dengan kejadian serangan teroris baru-baru ini di Barcelona. Saya pergi ke pusat kota dengan keluarga saya dan kami akan pergi ke tempat di mana serangan itu terjadi. Tetapi hari itu sangat cerah dan istri saya mengatakan sebaiknya kami membiarkan anak-anak bermain di taman dekat rumah. Puji Tuhan saya mendengarkannya. Kami hanya berjarak tiga atau empat menit saja dari lokasi kejadian. Begitu orang-orang mendengar berita serangan tersebut, teman-teman dan keluarga saya segera menghubungi untuk mengetahui keadaan kami."

Rakitic lahir dan besar di Swiss. Seperti Luka Modric, perang mengubah dan membelokkan jalan hidupnya. Keluarganya mengungsi ke Swiss dan di sana pula ia mengenal dan meniti karier sepakbola. Jika bukan karena Slaven Bilic, seperti dipaparkannya dalam artikel yang tayang di situsweb Player Tribune, ia sangat mungkin akan bermain untuk Swiss, bukan Kroasia.

Andai itu terjadi, pasti ia tak akan bermain di final Piala Dunia, bahu membahu dengan Modric mengawal lini tengah Kroasia.
Bertarung di El Clasico, Bersatu Demi Piala Dunia
Modric pindah ke Madrid dua tahun lebih dulu (2012) daripada Rakitic hjrah ke Barcelona (2014). Berkali-kali bertemu, berkali-kali pula keduanya saling melemparkan guyonan. Rakitic, misalnya, sering meledek Modric dengan bilang bahwa ia lebih “Cules” (sebutan untuk pendukung Barcelona) daripada dirinya.

“Beberapa kali saya meledeknya, memintanya agar jangan marah, sebab ia lebih ‘cule’ daripada saya. Ketika kami masih muda, kami semua punya klub favorit. Dan sudah bukan rahasia jika Luka begitu mencintai seragam berwarna merah dan biru itu,” ujar Rakitic.

Ia melanjutkan: “Kadang ketika kami bertanding, saya juga kerap mengejeknya setelah laga usai dan kami bertukar seragam. Saya bilang kepadanya: ‘Sekarang kamu bisa membawa pulang jersey yang sangat kamu cintai ini.’ Memalukan karena dia tidak jadi bermain di Camp Nou, tetapi sebuah kehormatan juga untuk bertanding dengannya di La Liga atau Liga Champions.”

Rakitic tak asal bercanda. Pada 2008, koran Spanyol, Mundo Deportivo, pernah merilis foto Modric tengah memamerkan jersey Barcelona bernomor 14 yang tertulis namanya. Pada tahun yang sama pula, Modric sejatinya dapat hijrah ke Barca, namun urung terjadi karena Blaugrana hanya bersedia meminangnya untuk jangka pendek. Hal ini sempat diungkapkan Bojan Krkic Sr., ayah dari bekas pemain Barca, Borjan Krkic, yang bekerja sebagai salah satu agen klub tersebut.

“Saya melihatnya dengan sangat jelas, begitu pula dengan kasus (Franck) Ribery di mana kami sudah nyaris mendapatkannya. Modric adalah pemain dengan mental pemenang, tapi klub tidak memikirkan masa depannya, mereka hanya bersedia menawarkan short-to-medium-term,” ujarnya.

Apapun yang terjadi, kedua kompatriot tersebut telah membuat sejarahnya masing-masing di kedua klub yang saling bermusuhan. Namun esok, 15 Juli 2018, Rakitic dan Modric akan saling berjuang sekuat tenaga untuk meraih Piala Dunia pertama bagi Kroasia.

Khusus Rakitic, ia bahkan siap mengorbankan kariernya asal Kroasia menjadi juara.

“Akan ada 4,5 juta orang (Kroasia) di lapangan. Kami akan saling mendukung satu sama lain. Ini adalah pertandingan terbesar dalam hidup kami dan kami ingin pulang dengan kepala tegak. Saya akan melepaskan karier saya jika itu adalah harga yang harus dibayar untuk membawa negara saya menang, untuk memenangkan Kroasia,” katanya dikutip dari The Telegraph.[tirto.id]

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.