Pada Juni 2017, Modric yang menjadi salah satu saksi di pengadilan Mamic dianggap telah memberi keterangan palsu dengan mengatakan “tidak mengingat kejadian tersebut”. Ia juga menyebut klausul kontrak sudah ada sebelum penjualannya ke Spurs.
Akibat sikapnya itu, mayoritas publik Kroasia, terutama suporter Dinamo Zagreb, merasa geram dengan Modric. Ia dianggap sebagai kawanannya Mamic. Kesaksian Modric, yang terkesan melindungi Mamic, membuat kesal banyak orang yang menginginkan perubahan dalam tata kelola sepakola di Kroasia. Mamic adalah penghalang terbesar perubahan itu, karena dia mencengkeram sangat kuat bukan hanya di Dinamo, tetapi juga federasi sepakbola Kroasia.
Hal tersebut turut dibenarkan oleh salah seorang jurnalis Kroasia, Bernard Jurisic. Kepada Skysports, ia mengatakan: "Kasus pengadilan Mamic diikuti dengan serius di Kroasia, dan kenyataan bahwa Modric terlibat dalam keseluruhan cerita tersebut tidak diragukan lagi telah merusak reputasinya.”
Cinta yang Bersemi di Sebuah Bar
Januari 2011. Ivan Rakitic baru tiba di Spanyol pada malam hari. Ia datang dari Jerman untuk menyelesaikan tes medis dan tanda tangan kontrak bersama Sevilla yang telah mendatangkannya dari Schalke 04. Tapi Rakitic tidak bisa tidur kendati malam sudah larut. Ia pun mengajak Dejan, saudara laki-lakinya, untuk pergi ke bar hotel.
“Ayo nongkrong dulu baru setelahnya kita tidur,” katanya.
Sesampainya di bar tersebut dan memesan minuman, Rakitic dan Dejan terlibat obrolan santai. Ketika itu Dejan juga sempat mendapat telepon dari perwakilan salah satu klub besar di Eropa. Mereka membicarakan kemungkinan apakah Rakitic bersedia pindah ke klub mereka. Jika tawaran tersebut disetujui, klub tersebut akan mengirimkan pesawat pribadi untuk menjemput Rakitic malam itu juga. Gelandang yang kini berusia 30 tahun itu kemudian menolak tawaran tersebut, karena ia sudah mengatakan “ya” kepada Presiden Sevilla.
Tetapi bukan itu hal yang mengejutkan Rakitic pada malam tersebut, melainkan kecantikan salah seorang pramusaji wanita di bar tersebut. Kepada Dejan, ia bahkan sempat berkata: “Kamu lihat pramusaji perempuan itu? Saya akan bermain untuk Sevilla dan akan menikahi perempuan tersebut.”
Dejan hanya tertawa: “Terserah apa katamu saja.”
Pada mulanya, Rakitic kesulitan mendekati perempuan tersebut karena kendala bahasa. Ia sebetulnya menguasai berbagai bahasa pokok di Eropa seperti Perancis, Inggris, Jerman, Italia, dan bahasa ibunya, Serbo-Croatian, namun ia tak bisa berbahasa Spanyol. Maka ketika tiap pagi datang ke bar tersebut, Rakitic hanya mampu menyapa si pramusaji dengan kalimat yang sama selama berminggu-minggu: “Buenos días, Raquel. Un café y un Fanta naranja.”
“Selamat pagi, Raquel. Kopi dan fanta oranye, ya.”
Kurang lebih dua tahun lamanya Rakitic menjajaki hubungan dengan Raquel, pada April 2013 ia pun menikahi perempuan tersebut. Dua bulan setelahnya, putri pertama mereka lahir dan diberi nama Althea. Tiga tahun berikutnya, pasangan tersebut dianugerahi putri kedua: Adara. Ia menepati omongannya kepada Dejan.
Rakitic menceritakan seluruh kisah pertemuannya dengan Raquel di tulisannya, "A Croatian Guy Walks into a Bar", yang tayang di Players Tribune pada September 2017 lalu. Namun demikian, hingga tahun kelima mereka bersama, Rakitic masih belum dapat memahami apa yang sebetulnya terjadi dalam kisah yang mirip film Hollywood tersebut.
“Saya tak tahu bagaimana menjelaskannya. Terkadang, Anda bertemu seseorang dan tiba-tiba muncul perasaan yang berbeda dari biasanya. Setiap saya melihatnya, saya merasa ada bom di dalam diri saya. Saya belajar tiap kata (dalam bahasa Spanyol) secara perlahan, minggu demi minggu, dan jika saya kepayahan, saya akan menggunakan tangan saya untuk menjelaskan kepadanya apa yang ingin saya katakan.”