Terbuang oleh Perang, Dipisahkan El Clasico, Disatukan oleh Timnas

July 15, 2018 - 19:05
Luka Modric (Kiri) dan Ivan Rakitic (Kanan), dua pemain tengah timnas Kroasia. AP PHOTO/Rebecca Blackwell/tirto.id
1 dari 3 halaman

HABADAILY.COM - Usai mengetahui kakeknya ditembak mati sekelompok preman Serbia, hidup Luka Modric sudah tidak pernah sama lagi. Usianya masih enam tahun saat itu: 18 Desember 1991.

Kejadian tersebut berlangsung di Modrici, sebuah dusun terpencil yang terletak di lereng gunung Velebit, Dalmatia utara. Di sanalah Modric dan keluarganya tinggal. Ketika Perang Balkan mulai berkecamuk, area tersebut dikuasai Srpska Autonomna Oblast Krajina (SAO Krajina), pasukan pemberontak Serbia yang salah satu misinya adalah mengusir dan menghabisi orang-orang Kroasia.

Menyusul keadaan yang semakin gawat, keluarga Modric pergi mencari bantuan di kota Zandar, sekitar 45 kilometer dari Modrici. Mereka menetap sementara di sebuah hotel yang jamak ditempati para pengungsi lain: Hotel Iz. Tak ada aliran listrik sama sekali kala itu dan pasokan air pun juga amat terbatas. Dentuman granat, desing peluru, dan ancaman ranjau darat adalah hal normal yang biasa ditemui Modric kecil.

Keluarga Modric sejatinya cukup berada. Ayahnya, Stipe Modric, berprofesi sebagai aeromekanik dan terdaftar sebagai tentara Kroasia. Sementara ibunya, Rodojka, bekerja di sebuah pabrik tekstil. Maka dari itu, kendati tengah dilanda perang, orang tua Modric masih sanggup membiayai pendidikan untuk anak-anaknya. Modric kecil bahkan didaftarkan ikut akademi sepakbola. Adiknya, Lukina, juga tetap dapat bersekolah di Zandar. Namun, tentu saja kondisi finansial keluarga itu tidak lagi sama sejak perang dimulai.

“Ketika perang berlangsung, kami sekeluarga menjadi pengungsi. Itu adalah saat-saat tersulit. Saya masih berusia enam tahun. Saya masih sangat ingat dengan jelas tapi itu semua bukan sesuatu yang ingin Anda kenang atau semacamnya. Kami tinggal di hotel selama beberapa tahun dan berusaha mati-matian untuk bertahan hidup,” ungkap Modric, dikutip dari The Independent.

Hidup di dalam kondisi peperangan tentu tak menyenangkan, terlebih bagi bocah laki-laki yang menggemari sepakbola. Untuk mengatasi ketakutan sekaligus membunuh rasa bosan, tiap hari Modric kecil selalu bermain bola sendirian di tempat parkir hotel.

“(Walau keadaannya sulit), saya selalu mencintai sepakbola. Saya ingat dulu pelindung tulang kering pertama saya bergambar wajah Ronaldo. Saya sangat menyukainya.”

Kebiasaan Modric bermain bola sendirian di tempat parkir tersebut kemudian diketahui oleh Josip Bajlo, pemilik klub NK Zadar. Bajlo mengaku terkesan dengan kemampuan Modric kala itu, kendati ia tak pernah mengira jika kelak bocah tersebut akan tumbuh menjadi salah satu gelandang terbaik di dunia seperti hari ini.

“Dia kurus dan sangat kecil untuk usianya, tapi Anda bisa langsung bahwa anak itu memiliki sesuatu yang istimewa di dalam dirinya. Hanya saja, tidak seorang pun yang bermimpi bahwa suatu hari dia akan menjadi pemain seperti sekarang,” ujar Bajlo kepada The Guardian.

Pada usia ke-16, Modric mulai menapaki karier sepakbola dengan bergabung bersama tim junior Dinamo Zagreb. Tapi di sana nasibnya tak mulus, hingga ia sempat dipinjamkan ke klub Bosnia Herzegovina, Zrinjski Monstar, dan Inter Zapresic, yang berkompetisi di Divisi Satu Liga Kroasia. Baru pada musim 2005/2006 ia teken kontrak profesional dengan Zagreb dan berhasil mempersembahkan tiga gelar Liga Kroasia secara beruntun.

Karier Modric kian menanjak setelah Tottenham Hotspur kepincut meminangnya pada 2008. Selama empat musim memperkuat The Lilywhites, Modric bermain reguler di tim inti sebanyak 127 kali dan mencetak 13 gol. Kendati demikian, hidup Modric bukannya sepi masalah. Justru ketika berkarier di Inggris, pemain kelahiran 9 September 1985 itu sempat menjadi public enemy rakyat Kroasia.

Pangkal persoalannya adalah relasi Modric dengan Zdravko Mamic. Di Kroasia, Mamic bukan orang sembarangan. Mantan Direktur Eksekutif Dinamo Zagreb ini dapat dikatakan sebagai “broker” raksasa yang mengatur bursa transfer para pemain berbakat di Kroasia. Wabilkhusus mereka yang memperkuat Dinamo Zagreb.

Jika si pemain akan dibeli suatu klub, maka Mamic akan mendapat imbalan. Modric pun mengalami hal tersebut ketika ia dibeli Hotspur dari Zagreb. Dari biaya transfer sebesar 16,8 juta euro, Mamic mendapatkan sekitar 80{d4c6f09ee6ca62d7735e4854882f0aacc17df07ca058945ea26b4966969b8235}-nya. Masalah mulai muncul ketika ia dituduh telah melakukan penggelapan pajak dengan cara memalsukan segala dokumen terkait penjualan beberapa pemain. Ia pun dijatuhi hukuman enam setengah tahun penjara.

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.