Kuah Beulangong, Kuliner Tradisional yang Legendaris

June 1, 2018 - 13:00
3 dari 3 halaman

Berbeda dengan kuah beulangong, tidak menggunakan santan peras. Tetapi kelapa yang sudah diparut langsung dicampur ke dalam kuah beulangong. Sedangkan di daerah lain, kelapa parut diperas dan ampasnya dibuang. Rasanya sebenarnya sama-sama gurih, aroma khas rempah-rempah memantik nafsu makan.

Bumbu yang dipakai seperti cabe rawit, cabai merah, bawang merah dan putih serta beberapa rempah-rempah lainnya. Seperti daun teumeurui, serai hingga ada dicampur sedikit lada.

Geucik Fauzan menyebutkan, sejak tahun 1953 Gampong Lamdom sudah mulai memasak masakan khas Aceh Rayeuk ini. Para pendahulu memasak kuah beulangong ini untuk menyambung silaturrami dengan sesama warga sendiri maupun dengan warga gampong tetangga lainnya.

“Silaturraminya, waktu buka puasa akan diundang warga gampong tetangga untuk berbuka puasa bersama,” imbuhnya.

Setelah 12 pekerja bergelut dengan asap dan panasnya bara api selama 4 jam lebih. Kuah Beulangong pun sudah matang. Warga setempat, mayoritas kaum hawa membawa tempat untuk mengambil kuah beulangong yang akan dibagi-bagikan.

Warga diminta untuk antri dan tertib. Petugas yang membagikan pun mengatur tempat yang dibawa oleh warga, lalu dibagikan sama rata. Setelah itu warga kembali pulang dengan senyum sumringah dengan membawa kuah beulangong gratis.

“Biaya swadaya dari masyarakat. Sekarang ini dua lembu besar menghabiskan anggaran Rp 50 juta,” tukasnya.

Kuah beulangong bagi warga Banda Aceh dan Aceh Besar tidak bisa dipisahkan dalam kehidupannya. Kuah beulangong kuliner tradisional yang sudah melegendaris telah memantik wisatawan datang ke Aceh untuk mencicipinya.[acl]

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.