Kuah Beulangong, Kuliner Tradisional yang Legendaris

June 1, 2018 - 13:00
2 dari 3 halaman

Memasak kuah beulangong merupakan masakan tradisional khas Aceh Rayeuk yang sudah melegendaris. Sejak jaman kesultanan, kuah beulangong sudah mulai dimasak untuk kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat sebagai rasa syukur.

Bahkan dalam sejarah, Kuah Beulangong dulunya ada sedikit campuran ganja sebagai penyedap dan agar daging empuk. Tarmizi A Hamid yang akrab disapa Cek Midi, seorang kolektor manuskrip kuno di Aceh menjelaskan, dalam Kitab Tajulmuluk, sebuah manuskrip kuno yang dimilikinya, ganja memang sudah menjadi komoditi penting untuk menyajikan masakan yang lezat masa kerajaan Aceh dulu.

Zaman dulu, tanaman ganja bahkan menjadi penghias di halaman rumah. Tanaman ini tumbuh di mana saja, bahkan menjadi tumpang sari untuk berbagai tanaman di perkebunan.

Mengapa pada zaman dulu ganja kerap digunakan pada makanan? Cek Midi ternyata memiliki penilaian sendiri. Dari literatur manuskrip kuno yang dia temukan, selain untuk penyedap rasa. Ganja juga digunakan untuk bahan pengawet makan yang alami, tanpa tercampur dengan zat kimia yang berbahaya untuk kesehatan.

Secara budaya, masyarakat Aceh dulu memang telah lama mengonsumsi ganja untuk hal positif. Bukan penggunaan yang negatif seperti saat ini dijadikan rokok yang bisa memabukkan. Anak-anak muda masa kini, telah menyalahgunakan tumbuhan 'ajaib' yang tumbuh subur di Serambi Makkah. Padahal, beberapa Negara di Eropa, ganja bisa menjadi komoditi yang produktif, untuk dijadikan berbagai pengobatan dan produk alternatif lainnya.

Meskipun tradisi menambah sedikit ganja dalam Kuah Beulangong untuk penyedap rasa sudah jarang dilakukan. Meskipun tak menampik ada beberapa warung nasi yang menyediakan kari kambing ada yang menggunakan sekedarnya saja.

Namun diyakini, Kuah Beulanong yang dimasak pada tradisi yang dilestarikan oleh warga Aceh Rayeuk dan Banda Aceh saat ini. Baik saat memperingati hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, pesta perkawinan hingga peringatan Nuzul Quran dalam bulan Ramadan, kuah beulangong menjadi menu penting dimasak sebagai perekat silaturrahmi antar warga tidak menggunakan ganja.

“Ini dalam rangkaian memperingati Nuzul Quran dalam bulan Ramadan. Tujuannya untuk menyatukan masyarakat, membuat persatuan masyarakat, hikmahnya masyarakat di sekeliling bisa kita undang berbuka bersama untuk menyambung silaturrahmi,” tegasnya.

Masakan kuah beulangong khas Aceh Rayeuk sebenarnya juga terdapat di beberapa daerah lainnya. Akan tetapi, hanya saja cara memasak yang berbeda. Di Kabupaten Pidie misalnya, memasak kuah beulangong lebih dominan berwarna merah, karena banyak cabai dan dicampur dengan santan kelapa yang sudah diperas.

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.