Jejak Indatu dalam Motif Rumpun Biluluk Khas Abdya

April 18, 2026 - 14:28
Motif Rumpun Biluluk terinspirasi dari anyaman daun kelapa muda. (FOTO: HO I Duta WIsata Abdya 2025).

HABADAILY.COM - Di balik setiap helai kain yang dikenakan, tersimpan kisah panjang tentang warisan dan jati diri. Di Aceh Barat Daya (Abdya), salah satu cerita itu hidup dalam Motif Rumpun Biluluk, sebuah ragam hias khas yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga sarat makna tentang kehidupan dan kebersamaan. Keragaman dan keunikan seni budaya selalu memiliki daya tarik tersendiri, sekaligus menjadi identitas penting bagi suatu etnis dan daerah.

Asal Mula Motif Rumpun Biluluk
Motif Rumpun Biluluk terinspirasi dari anyaman daun kelapa muda yang dibentuk berumpun. Dari proses yang terlihat sederhana itu, lahir filosofi mendalam tentang kebersamaan, keterikatan, dan kekuatan dalam satu ikatan.

Nilai-nilai ini diwariskan oleh para indatu (leluhur) sebagai cerminan kehidupan sosial masyarakat Aceh yang selalu terhubung dan saling menguatkan.

Motif Rumpun Biluluk terinspirasi dari anyaman daun kelapa muda, dan Duta Wisata Aceh 2025 mengenakan baju bermotif Rumpun Biluluk. (FOTO: HO I Duta WIsata Abdya 2025).

Ragam Motif Rumpun Biluluk
Duta Inong Wisata Abdya, Srikandi Arman, turut memberikan pencerahan mengenai filosofi warna pada motif yang menjadi identitas kebanggaan Abdya ini.

"Secara tradisional, motif ini dominan menggunakan kombinasi warna kuning, merah, hijau, dan hitam. Warna-warna ini mewakili elemen Pinto Aceh dan filosofi masyarakat Aceh secara umum. Saat ini, banyak motif baru yang terus dikembangkan pada pakaian agar bisa digunakan oleh semua kalangan," kata Srikandi kepada Habadaily.com, Sabtu (18/04/2026).

Srikandi juga menjelaskan bahwa kekayaan motif tersebut kemudian diangkat ke dalam busana tradisional. Sentuhan warna khas seperti emas, merah, dan hijau biasanya berpadu dengan elegan di atas kain berwarna gelap.

"Setiap garis dan susunan motif mencerminkan pola anyaman, menghadirkan harmoni antara tradisi dan estetika," ujarnya.

Rumpun Biluluk Masa Kini
Bagi generasi masa kini, mengenakan Motif Rumpun Biluluk bukan sekadar pilihan gaya, melainkan bentuk penghormatan nyata terhadap akar budaya.

Bagi pengantin di Abdya, sudah menjadi tradisi wajib untuk menggunakan busana bermotif Rumpun Biluluk, khususnya pada saat prosesi Manoe Pucok. Srikandi, yang merupakan pasangan dari Agam Najman Riadhi, menjelaskan makna mendalam di balik tradisi ini bagi para Dara Baro (pengantin wanita).

"Pandangan wanita Abdya terhadap Manoe Pucok bukanlah sekadar mandi biasa, melainkan simbol purifikasi atau pembersihan lahir batin sebelum melepas masa lajang," sebutnya.

Di tengah arus modernisasi, jejak indatu tersebut tetap kokoh terjaga. Dari anyaman daun kelapa muda hingga bertransformasi menjadi motif busana, Rumpun Biluluk membuktikan bahwa tradisi dapat beradaptasi tanpa kehilangan maknanya. Ia tetap tumbuh, seperti rumpun yang saling menguatkan dari generasi ke generasi.

Duta Inong Wisata Abdya, Srikandi Arman, mengenakan baju bermotif Rumpun Biluluk. (FOTO: HO I Duta WIsata Abdya 2025).

Rumpun Biluluk dan Acara Adat
Kini, Rumpun Biluluk telah menjadi simbol bahwa nilai-nilai lama masih sangat relevan, hidup, dan terus diwariskan. Eksistensi tradisi ini juga telah diperkuat melalui pengakuan resmi.

  • Warisan Budaya Tak Benda (WBTB): Tradisi Manoe Pucok telah diusulkan dan ditetapkan sebagai WBTB asli dari Abdya.
  • Hak Cipta Resmi: Motif Rumpun Biluluk telah resmi tercatat dan mendapatkan Surat Pencatatan Ciptaan dari Kemenkumham pada 23 November 2021.

Saat ini, pada setiap acara sakral seperti kegiatan pemerintahan maupun acara adat, penggunaan Motif Rumpun Biluluk telah menjadi sebuah keharusan.

Terkait pelaksanaan ritual adatnya, Srikandi menambahkan penutup yang menegaskan nilai kekeluargaan di dalamnya.

"Tidak ada tarif baku untuk pelaksanaan adat ini karena murni ritual budaya, bukan jasa komersial pemerintah. Biayanya sangat bergantung pada kemegahan acara, seperti detail dekorasi, jumlah penari, dan kelengkapan adat yang digunakan," tutupnya.

Editor: Suryadi

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.