HABADAILY.COM—Suara lirih datang dari seorang anak korban banjir di Kabupaten Bireuen, Aceh. Nur Fitri (8), siswi sekolah dasar, menulis surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia, menceritakan kehidupan berat yang ia jalani selama berbulan-bulan di pengungsian.
Sudah sekitar empat bulan, Fitri bersama keluarganya tinggal di tenda darurat setelah rumah mereka rusak akibat banjir. Dari lokasi pengungsian di halaman Kantor Bupati Bireuen, ia menuliskan langsung isi hatinya di atas kertas sederhana.
Dalam surat tersebut, Fitri memperkenalkan dirinya sebagai pelajar SD yang kini tidak lagi memiliki rumah untuk ditinggali. Ia menggambarkan kondisi hidup di tenda yang jauh dari kata nyaman, terutama bagi anak-anak.
Ia mengaku harus menghadapi suhu ekstrem setiap hari, terik panas saat siang dan dingin menusuk tulang di malam hari. Ketika hujan turun, rasa takut kerap menghampiri hingga membuatnya menangis dalam diam.
Kerinduan terhadap kehidupan normal menjadi hal yang paling ia rasakan. Fitri ingin kembali belajar dengan tenang di rumahnya sendiri dan berangkat ke sekolah seperti anak-anak lainnya.