Jubir Muhajir Juli: Terkait Pengungsi di Kantor Bupati, Fokus pada Solusi dan Data
HABADAILY.COM - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen berupaya mencarikan solusi terbaik bagi para pengungsi penyintas bencana yang saat ini mendirikan tenda di kompleks Pusat Pemerintahan Kabupaten Bireuen.
Juru Bicara Pemkab Bireuen, Muhajir Juli, mengaku, sejak hari pertama para pengungsi tiba, Bupati Bireuen telah turun langsung menemui mereka untuk berdialog secara persuasif di mushala kantor pusat Pemkab.
Para penyintas mempertanyakan kepastian pembangunan Hunian Tetap (Huntap) dan meminta solusi tempat tinggal sementara karena kelelahan hidup di bawah tenda.
"Bupati menawarkan hunian sementara yang layak dengan fasilitas lengkap diataranya kamar per KK, dapur, peralatan, serta logistik pangan," kata Muhajir Juli, Selasa (17/3/2026).
Muhajir Juli mengaku, awalnya sempat tercapai kesepakatan pada saat sahur bersama antara Bupati dan para pengungsi. Namun, meski instruksi pencarian hunian layak sudah diteruskan kepada Pj Sekda Bireuen, Hanafiah, sikap para pengungsi berubah pada pagi harinya.
"Perwakilan penyintas menyatakan menolak solusi hunian sementara dan memilih bertahan di tenda demi solidaritas hingga ada kepastian jadwal pembangunan Huntap," ujarnya.
Sementara itu, unjuk Rasa pada 16 Maret 2026, Puluhan warga bersama elemen sipil menggelar aksi di depan kantor bupati. Mereka mengklaim Bupati tidak peduli dan tidak pernah menjenguk mereka, pernyataan tersebut dibantah tegas oleh Muhajir sebagai kekeliruan data lapangan.
Asisten II Setdakab Bireuen, Mawardi, saat itu menjelaskan, bahwa Pemkab tidak bisa memberikan tanggal pasti pembangunan Huntap karena kewenangan tersebut berada di bawah BNPB dan kementerian terkait di tingkat pusat.
Pemkab Bireuen sempat mengajak para korban bencana untuk masuk ke kantor guna memverifikasi identitas (KTP/KK) dalam data Jitupasna (Pengkajian Kebutuhan Pascabencana).

"Tujuannya agar terlihat siapa yang belum masuk data atau siapa yang sudah menerima Dana Tunggu Hunian (DTH). Namun, ajakan tersebut dicegah oleh beberapa pendemo lainnya sehingga terjadi deadlock," jelas Muhajir.
Mengingat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, Pemkab Bireuen menyayangkan penolakan solusi ini.
Muhajir mengajak semua pihak untuk berhenti berdebat dan fokus pada kesejahteraan pengungsi. Sedangkan Pernyataan bahwa Bupati abai adalah keliru.
Pemerintah mengimbau agar semua elemen bersatu mempercepat proses penanganan pascabencana tanpa membiarkan warga berlama lama di bawah tenda.
"Mari kita bekerja sama demi mereka. Jangan biarkan pengungsi bertahan lebih lama di tenda, karena pemerintah dari lini terbawah hingga teratas sedang bekerja keras," tutup Muhajir Juli.
Editor: Suryadi