Selain lomba utama, acara juga dimeriahkan penampilan tamu seperti Rapai Geleng serta sambutan tokoh masyarakat. Bagi para peserta, Ratoh Jaroe bukan sekadar lomba, melainkan pengalaman budaya yang mempertemukan mereka dengan tradisi dari wilayah yang jauh.
“Kalau seni Aceh bisa hidup di Solo, artinya budaya ini punya masa depan yang panjang,” kata Hasanul.
“Kami ingin ini bukan sekadar pertunjukan, tapi jembatan kebudayaan yang menyatukan banyak daerah.”
Ketika ratusan penari menutup acara dengan gerak serentak, tepuk tangan penonton menggema panjang. Di Surakarta, jauh dari tanah rencong, Ratoh Jaroe menjelma bahasa gerak yang menembus batas daerah, menyatukan generasi muda dalam satu irama kebersamaan. []