“Kami hanya membuka ruang belajar. Tapi yang membuat Ratoh Jaroe hidup di Solo adalah semangat anak-anak muda di sini,” ujarnya.
“Harapan kami, semakin banyak generasi di luar Aceh yang mengenal dan mencintai tradisi ini.”
Kegiatan yang diinisiasi Sansa Community tersebut menjadi wadah kreativitas sekaligus penguatan karakter generasi muda melalui seni. Ratoh Jaroe dinilai mampu melatih fokus, kekompakan, serta menumbuhkan kecintaan terhadap budaya.
Tema yang diangkat, “Meusapat Ratoh Jaroe Meuseraya”, mencerminkan semangat gotong royong dan kebersamaan dalam tarian.
Sejak dikenalkan oleh mahasiswa asal Aceh sekitar 2015, Ratoh Jaroe perlahan berkembang di Surakarta. Pada 2016, sejumlah sekolah mulai menjadikannya kegiatan ekstrakurikuler. Kini, lebih dari 30 lembaga pendidikan di wilayah Solo Raya tercatat menjadikan tarian tersebut sebagai kegiatan rutin.
Puncak acara berlangsung saat flashmob massal yang melibatkan ratusan penari. Dalam satu komando, tangan-tangan bergerak serempak, menciptakan irama yang menggema dan mengundang decak kagum penonton. Hentakan yang identik dengan panggung kesenian Aceh, sore itu terasa hidup di tengah kota budaya Jawa.