MAPESA dan Labs Aceh Rakitan Perkuat Ruang Praktik Seni

January 25, 2026 - 00:38
MAPESA bersama Labs Aceh Rakitan pada 20 sampai dengan 23 Januari 2026, di Seventeen Hotel, Seutui, Banda Aceh. (FOTO: HO MAPESA I HABADAILY.COM)

HABADAILY.COM - Upaya pelestarian dan pengembangan seni visual tradisi Aceh terus dilakukan. Salah satunya melalui Workshop Pengaplikasian Bahasa Visual Tradisi Aceh pada Media Logam dengan Teknik Etsa yang diselenggarakan oleh MAPESA bersama Labs Aceh Rakitan pada 20 sampai dengan 23 Januari 2026, di Seventeen Hotel, Seutui, Banda Aceh.

Kegiatan ini melibatkan 25 peserta dari kalangan pegiat sejarah, seniman, dan komunitas kreatif. Dan didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI dan LPDP melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2024 Kategori Kegiatan Strategis.

Baca Juga: Gandeng Akademisi, MAPESA Gelar FGD Bahas Nasib Warisan Sejarah Islam di Aceh

Dua dosen Seni Murni ISBI Aceh, Yulfa Haris Saputra, S.Pd., M.Sn dan Indra Setiawan, S.Sn., M.Sn, hadir sebagai narasumber utama untuk membagikan pengetahuan konseptual dan praktik teknik etsa pada media logam.

Founder Labs Aceh Rakitan, Iskandar, S.Sn., M.Sn yang akrap disapa Tungang, menyampaikan bahwa seni seharusnya hadir secara kontekstual dalam kehidupan masyarakat, bukan justru terpinggirkan.

“Satu ornamen tidak selalu cocok di semua tempat. Ketika seni kehilangan konteks, para senimannya pun ikut terpinggirkan. Workshop ini penting sebagai ruang refleksi dan praktik bersama,” ungkapnya.

Menurut Iskandar, kolaborasi lintas komunitas dan institusi menjadi kunci agar seni tradisi tidak berhenti sebagai artefak, tetapi terus hidup dan relevan.

MAPESA bersama Labs Aceh Rakitan pada 20 sampai dengan 23 Januari 2026, di Seventeen Hotel, Seutui, Banda Aceh. (FOTO: HO MAPESA I HABADAILY.COM)

Senada dengan itu, Yulfa Haris Saputra menyoroti pentingnya keberlanjutan ruang praktik seni di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

“Benda-benda lama dan karya klasik bisa saja tidak lagi dinikmati jika tidak diberdayakan. Tanpa upaya bersama, 50 tahun ke depan seni klasik hanya akan menjadi catatan, bukan praktik hidup,” ujarnya.

Workshop ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran peserta akan nilai bahasa visual tradisi Aceh serta mendorong eksplorasi medium baru yang tetap berpijak pada akar budaya.

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.