HABADAILY.COM - Empat puluh dua hari adalah waktu yang cukup lama untuk menguji batas kesabaran manusia. Bagi warga Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, setiap malam yang mereka lewati sejak banjir bandang 26 November 2025 lalu adalah rangkaian kecemasan di bawah atap terpal yang bocor dan dinding gubuk yang mulai melapuk.
Namun, mendung duka itu perlahan tersingkap. Isak tangis yang biasanya pecah karena kesedihan. Kini, pada 10 Januari 2026, berganti menjadi tangis haru. Harapan itu akhirnya mewujud dalam bentuk Hunian Sementara (Huntara).
Langkah kaki para relawan yang datang menjemput penyintas menjadi pemandangan paling indah di awal tahun ini. Dengan penuh kehati-hatian, petugas memprioritaskan mereka yang paling rapuh.
Para lansia yang tulang-tulangnya mulai linu dimakan lembap, serta bayi-bayi mungil yang harus berjuang melawan sakit di tengah sanitasi yang buruk.
Tujuh kepala keluarga terpilih menjadi penghuni pertama "istana sederhana" ini. Meski dindingnya tak semegah rumah permanen, Huntara ini menawarkan satu hal yang sudah lama hilang dari hidup mereka.
Seorang warga Buk Tika, mengaku, Meski dengan fasilitas yang sederhana, setidaknya dilokasi Huntara ini, penyintas banjir yang menjadi prioritas penghuni pertama, merasakan perhatian dan pemulihan terhadap kondisi kesehatan dan sikologis mereka.