MaSA Gelar Hari Internasional Keumalahayati dan Meuripe untuk Korban Banjir Bandang

December 28, 2025 - 14:55
MaSA Gelar Hari Internasional Keumalahayati dan Meuripe untuk Korban Banjir Bandang, 28 Desember 2025, bertempat di Indoor Taman Budaya, Banda Aceh. (FOTO: Brosur even)

HABADAILY.COM - Majelis Seniman Aceh (MaSA) akan kembali menggelar Perayaan Internasional Laksamana Keumalahayati pada 1 Januari 2026. Sebagai rangkaian utama, sebuah malam amal akan dilaksanakan pada Minggu malam, 28 Desember 2025, bertempat di Indoor Taman Budaya, Banda Aceh.

Acara ini bertajuk “Ie Mata Nanggroe dan Spirit Keumalahayati”  akan diisi dan penampilan berbagai seniman, mulai dari Krakuistik, Gitahandayani, Seulanga, Puisi Teatrikal (Sparta), Orang Utan Squad, Bur’am feat Thak Peut, serta berbagai talent lainnya.

Baca Juga: Penanganan Belum Maksimal: Pemerintah Aceh Perpanjang Masa Tanggap Darurat Bencana Hingga 8 Januari 2026

Ketua Umum MaSA, Chairiyan Ramli, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan peringatan hari lahir Laksamana Keumalahayati yang ke-475. Sejak 2024, UNESCO telah menetapkan 1 Januari 1550 sebagai hari kelahiran laksamana perempuan pertama di dunia tersebut, menjadikannya momentum perayaan internasional.

“Ini adalah bentuk refleksi semangat Laksamana Keumalahayati. Kami berharap semangat juang beliau dapat menginspirasi masyarakat Aceh yang baru saja ditimpa musibah banjir bandang dan tanah longsor untuk segera pulih dan bangkit kembali,” kata Chairiyan, Minggu (28/12/2025).

Kata Chairiyan, Selain nilai sejarah, acara ini membawa misi kemanusiaan. Melalui gerakan Meuripe (patungan/donasi), para seniman Aceh mengajak masyarakat untuk peduli terhadap korban bencana hidrometeorologi, termasuk para seniman di daerah terdampak.

“Donasi yang terkumpul akan disalurkan langsung untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang terkena imbas bencana,” tambah Chairiyan.

Ketua Panitia Pelaksana, Samsul Bahri yang arab disapa Sarjev, memaparkan bahwa bencana kali ini juga memukul sektor kebudayaan. Banyak instrumen seni, seperti Rapai Pase—ikon peradaban Aceh sejak abad ke-13 hanyut dan rusak akibat banjir.

“Rapai Pase adalah warisan berharga yang selalu hadir di pembukaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA). Kami mengajak semua pihak untuk peduli, tidak hanya pada korban jiwa, tapi juga pada kelestarian warisan indatu kita yang terdampak bencana ini,” tutup Sarjev.

Editor: Suryadi

© 2026 PT Haba Inter Media | All rights reserved.